Satu Islam Untuk Semua

Friday, 26 February 2016

Islam di Indonesia Tersebar Melalui Seni dan Budaya: KH. Agus Sunyoto


image

Islam di Indonesia bukan tersebar melalu militer, kata Sejarawan KH. Ng. Agus Sunyoto yang turut memeriahkan rangkaian Festival Islam Cinta di Malang, Rabu 24/2. Kehadiran sosok yang disapa ‘romo guru’ oleh muridnya ini menegaskan bahwa tidak ada sejarah Islam Indonesia yang menggunakan kekerasan.

“Berbicara soal Islam, saat ini kita melihat pasca-runtuhnya Komunisme, tiba-tiba muncul gerakan Islam ekstrem seperti Alqaidah, Taliban sampai ISIS dan Boko Haram. Seolah-olah Islam mewakili komunis. (Fenomena) bom bunuh diri  dan eksekusi (mati), (membuat) citra Islam betul-betul jadi momok dunia. Itu terjadi sejak tahun 1990,” kata Kiai Agus yang juga dikenal sebagai penulis ‘Atlas Walisongo’.

Pada tahun 1995, kata Kiai Agus, Gus Dur menyebutkan pasca-runtuhnya komunisme akan terjadi benturan ‘barat’ dan ‘timur’. Barat diwakili Kristen dan timur diwakili Islam dan Kong Hu Cu.

“Dan betul terjadi. Banyak kerusakan gereja sampai meledaknya peristiwa yang seolah-olah konflik agama,” katanya.

Dari situ sejumlah media seakan-akan menyampaikan Islam adalah agama teroris hingga dikatakan pesantren adalah sarang teroris. “Tapi, ketika kita teliti, ternyata Islam tidak seperti apa yang mereka bicarakan,” katanya

Islam di Indonesia berbeda dengan Islam yang berkembang di negara lain, Islam di Indonesia menyebar bukan melalui militer namun melalui jalur kesenian dan kebudayaan. Karena yang membawa Islam ke Indonesia, kata Kiai Agus, bukan penguasa melainkan kaum sufi yang anti kekerasan. Mereka yang mengajarkan toleransi, cinta kasih dan kesabaran. “Hal tersebut menunjukan tidak ada dakwah yang mengajari kekerasan,” katanya.

Nahdatul Ulama, kata Kiai Agus, memiliki program revitalisasi tiga ribu naskah warisan lama, mulai dari Majapahit sampai Mataram. “Dari situ kita akan tahu bahwa tidak ada naskah yang menceritakan tentang kekerasan,” katanya.

Citra Islam sebagai agama kekerasan adalah bagian dari skenario global, tambahnya. Sejak 1996, kita selalu terlibat dalam konflik agama. “Kita masih ribut soal agama, di satu sisi aset negara sudah habis,” katanya.[]

 

(Ami / Islam Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *