Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 31 December 2013

Islam dan Jazz-Amerika


jazz24.org

Meninggalnya Yusef Lateef, seorang legenda besar Jazz Amerika belum lama ini, tak pelak mengingatkan kita pada pengaruh Islam atas musik Amerika pada 1950-an. Yusef Lateef lahir dengan nama William Emanuel Huddleston pada 9 Oktober 1920 di Chattanooga dan tumbuh besar di Detroit. Dia mulai memainkan saksofon pada 1946, lalu beralih ke flute, oboe, bassoon, dan banyak lagi instrumen lain.

Yusef banyak bekerja sama dengan para musisi besar jazz lainnya seperti Cannonball Adderley, Donald Byrd, Dizzy Gillespie, dan Charles Mingus. Yusef menjadi satu di antara musisi kulit hitam pertama yang memeluk Islam. Bersyahadat pada 1948, Yusef mengubah namanya, kemudian dua kali beribadah haji ke Tanah Suci Mekah. Dia juga menulis disertasi doktoral berjudul “An Overview of Western and Islamic Education.”

Menegaskan keimanannya, sejak 1980 Yusef Lateef melarang sama sekali keberadaan minuman beralkohol dalam setiap aksi panggungnya. Pada dekade 50-an itu bukan hanya Yusef Lateef, sejumlah figur jazz terkemuka lainnya juga mulai memeluk Islam. Nama-nama seperti Art Blakey (Abdullah Ibn Buhaina), Nuh Alahi, Fard Daleel, Mustafa Daleel (Oliver Mesheux), Talib Daoud, Ahmad Jamal (Fritz Jones), Muhammad Sadiq, Sahib Shihab (Edmund Gregory), Dakota Staton (Aliya Rabia), dan McCoy Tyner (Sulaiman Saud), masuk dalam daftar musisi yang memilih Islam. Selain itu, bintang jazz yang juga ditengarai masuk Islam antara lain John Coltrane (yang menikahi seorang perempuan Muslim) Dizzy Gillespie (bandnya melibatkan sejumlah musisi Muslim) Charlie Parker (Abdul Karim), dan Pharaoh Sanders (yang karya-karyanya mengandung banyak tema-tema Muslim).

Sebuah daftar yang memuat nama-nama musisi jazz Muslim mencantumkan setidaknya 125 nama. Sebagian besar musisi ini konon lebih suka tampil di klub-klub yang dimiliki sahabat-sahabat Muslim mereka, yang kebanyakan berasal dari kawasan Karibia. Singkat kata, Islam sempat disebut sebagai agama-tak-resmi bebop. Para musisi itu berpaling kepada Islam sebagian memang karena alasan agama, sebagian lagi karena seperti diungkapkan oleh Lynn Hope, “Islam meruntuhkan batas-batas rasial dan memberikan kepada pengikutnya harapan serta kehormatan. Islam juga menjadikan kelompok musisi jazz tersebut kian menarik perhatian, karena ketika itu populasi Muslim baru mencapai 100.000 jiwa di antara 150 juta warga Amerika. [Sumber: National Review]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *