Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 15 January 2014

Inspirasi dari Sang Nabi


saharadeserttrips.com

“Sekali-kali, kita harus hati-hati pada sebuah ruang kosong tempat berhuninya ketidaksadaran dalam subjektivitas kita…” (Jacques Lacan)

 

Beberapa waktu yang lalu, saya pulang ke Cianjur. Di sana, saya sempat bertemu dengan seorang kawan lama yang kini bergiat di Jamaah Tabligh, sebuah kelompok agama yang “anti politik” dan mengaku hanya fokus pada “ibadah-ibadah” semata. Kami  ngobrol ngalor ngidul,sekadar melepas kangen. Perbincangan kami akhirnya sampai pada masalah-masalah agama. Seru juga.

Tiba-tiba di tengah pembicaraan, saya tergelitik untuk menanyakan soal cara berpakaiannya yang agak kearab-araban (atau keindia-indiaan?): “Rasulullah dulu juga berpakaian seperti ini, ini sunnah Rasul” katanya. Saya tersenyum dan buru-buru  mengalihkan pembicaraan ke masalah lain. Apapun, hak dia untuk memakai pakaian yang dia anggap pantas dan baik.

Hanya saja, saya jadi ingat sebuah kisah zaman dulu.Suatu hari, Muhammad pernah menyukai sebuah cincin dari logam biasa.Dia lalu membeli dan langsung memakainya. Demi melihat itu, para sahabat ramai-ramai pula membuat cincin logam serupa dan memakainya. Begitu Muhammad tahu gelagat tersebut, ia cepat-cepat membuangnya. Eh, para sahabat pun seperti latah, ikut-ikutan pula membuang cincin-cincin logam tersebut.

Dalam kitab al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab karya Ibn ‘Abd al Barr, disebut pula dalam suatu massa, para sahabat pernah “tergila-gila” oleh sandal dari kulit yang sudah dibersihkan bulunya (al-ni’al al sibtiyyah).Sandal jenis itu mulanya dipakai oleh Muhammad. “Seratus tahun kemudian, sandal ala Muhammad itu dimodifikasi ulang oleh para perancang mode dan sempat menjadi trend di Makah,”tulis Fu’ad Jabali dalam Sahabat Nabi,Siapa, Kemana dan Bagaimana?

Diriwayatkan oleh beberapa hadits juga, Muhammad memiliki kebiasaan jalan cepat seperti menuruni gunung dengan muka tertunduk. Waktu usia remaja, saat saya aktif di beberapa pengajian usroh, prilaku ini sempat  “dengan penuh dedikasi” saya ikuti. Hasilnya, teman-teman sekelas saya di SMA menyebut cara jalan saya seperti “manusia yang punya utang dan takut ditagih.”

Mungkin banyak orang yang sangat kagum, cinta dan terinspirasi dengan Sang Nabi. Tapi banyak juga orang “terjebak” mengikuti tapak sunnahnya hanya pada soal-soal sepele,fisik dan tampilan luar semata. Pertanyaan saya, mengapa kita tidak mengikuti cara-cara humanis Muhammad seperti berlaku adil tanpa pandang status,agama dan etnis dan sangat penakut untuk berbuat zalim kepada siapapun termasuk kepada tumbuhan dan binatang?

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *