Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 08 October 2017

HIKMAH – Keraguan yang Melampaui Ketenangan Hewani


doute1

islamindonesia.id – HIKMAH – Keraguan yang Melampaui Ketenangan Hewani

 

Jika kita perhatikan zaman ini dari sudut agama, khususnya terkait kalangan generasi muda,  kita menemukan bahwa zaman ini merupakan zaman keguncangan, keraguan, dan perubahan. Zaman ini telah melemparkan serangkaian persoalan dan keraguan ke medan kajian, dan menghidupkan kembali sejumlah persoalan klasik yang telah terlupakan dalam bentuk yang baru dan menjadikannya sebagai poros berbagai perdebatan.

Namun, haruskah kita menghadapi segenap keraguan dan pertanyaan yang terkadang mencapai tingkat ekstrem dengan perasaan putus asa, sesak napas, dan pesimistis?

Tidak. Segenap keraguan itu tidak harus menyedihkan kita. Sebab, keraguan adalah perantara menuju keyakinan, pertanyaan adalah  perantara menuju kesimpulan (yang benar), dan kegelisahan adalah perantara menuju ketentraman. Keraguan adalah jembatan yang indah, sekalipun ia juga merupakan tempat tinggal yang buruk.

Dengan menganjurkan tafakkur dan memperoleh keyakinan secara intens, Islam memahami benar bahwa keadaan manusia pada permulaannya adalah ragu dan bimbang. Dengan pemikiran yang jernih, kita dapat mencapai keyakinan dan ketentraman.

Salah seorang pemikir mengatakan, ”Manfaat pembicaraan kita sekarang ini hanya membawa Anda pada keraguan dan kebimbangan untuk Anda lanjutkan sendiri dengan pembahasan dan penelitian menuju keyakinan.” Benar, dalam keraguan, tidak terdapat  ketetapan dan ketenangan. Tetapi juga benar bahwa ketidaktetapan dan ketidaktenangan yang lain tidak lebih utama daripada “ketidaktetapan” dan “ketidaktenangan” semacam ini.

Jadi, ada dua jenis ketetapan, yaitu ketetapan yang lebih rendah daripada keraguan dan ketetapan yang lebih tinggi daripada kerguan. Ketika kita mengatakan bahwa binatang menikmati ketenangan, itu merupakan ketenangan yang lebih rendah darapada keraguan, di samping tidak akan pernah sampai pada keyakinan.

Sedangkan, orang beriman yang telah mencapai derajat keyakinan juga merapakan ketetapan. Hanya saja, ketetapan yang dirasakan oleh orang beriman yang telah yakin itu adalah ketetapan jenis kedua, yaitu ketetapan yang lebih tinggi daripada keruguan. Mereka telah melampaui tahap keraguan dan sampai pada tahap keyakinan.

Kecuali beberapa orang yang langsung dibantu oleh Allah, sebagianbesar orang beriman yang memiliki keyakinan telah melewati tahap keraguan dan kebimbangan, hingga akhirnya mereka sampai pada keyakinan dan keimanan.

Oleh karena itu, tidaklah layak kita menuduh zaman ini sebagai zaman penyimpangan dan kemorosotan hanya lantaran dipenuhi kebimbangan dan keraguan. Sebab, segenap kerguan ini tidak lebih rendah daripada keyakinan naif yang tidak pernah mengalami guncangan dan terpaan keraguan, tapi dia tidak mau meneliti sesuatu yang dia ragukan itu. Atau, bila terjadi sejumlah kebimbangan di tengah masyarakat, tapi para pemikir tidak bergerak untuk mengatasi pelbagai kemusykilan yang menyebabkan semua kebimbangan tersebut.

 

MTH/ YS/ ISLAMINDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *