Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 29 January 2017

Harmoni Imlek di Serambi Madinah


Harmoni Imlek di Serambi Madinah

islamindonesia.id – Harmoni Imlek di Serambi Madinah

 

Jika Aceh dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, lalu dimanakah Serambi Madinah?

Serambi Madinah merupakan julukan Kota Gorontalo yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan memiliki semboyan “sejak masa kerajaan, adat sendikan syara, syara bersendikan kitabullah”.

Meski mayoritas penduduknya Muslim, di Serambi Madinah ini terdapat pula 2 kelenteng. Yakni kelenteng tua yang dibangun tahun 1827, dan klenteng baru di atas bukit, tepatnya di pinggir teluk Gorontalo.

Maka setiap datangnya Tahun Baru Imlek, tidak hanya penganut agama Konghucu yang menyemarakkan Hari Raya tersebut, bahkan sebagian warga kota berbaur di halaman kelenteng atau di rumah warga Tionghoa untuk bergembira bersama.

Demikianlah tradisi kerukunan beragama itu telah terbangun sejak lama, tak terkecuali saat Imlek tahun ini.

“Tahun Baru Imlek ini kami mengambil tema kerukunan umat beragama, kami ingin mempererat silaturahmi,” kata Hengky Kamoli, pengurus kelenteng Tulus Harapan Kita Gorontalo, Sabtu (28/1/2017).

Bagi warga Gorontalo secara umum, kekeluargaan itu adalah bagaimana menjalin komunikasi dengan sesama, saling bantu dan hormat untuk mensyukuri kehidupan ini.

Harmoni hidup bersama dalam keragaman ini tercermin dari perilaku sehari-hari. Karena memang faktanya mereka saling kenal sejak kecil, sudah sejak lama menjadi teman sepermainan, kawan sekolah atau tetangga, yang hal itu terbawa hingga generasi tua.

Kedekatan sejak kecil warga Kota Gorontalo inilah yang menjadi unsur penting kehidupan keseharian mereka. Saling bantu dan saling hormat, termasuk dalam soal keyakinan, sudah menjadi hal yang biasa.

“Kalau Imlek kami berkumpul dengan keluarga besar, kami makan dan bercanda, tidak ada halangan dalam perbedaan keyakinan dan suku,” kata Lily Haliem, warga Tionghoa Gorontalo yang sudah memeluk agama Islam dan mengenakan jilbab ini.

Lily Haliem yang masih menyandang nama Liem Li Hwa mengaku, meskipun dibesarkan dalam tradisi leluhur Tionghoa, ia tetap dihargai dalam keluarga besarnya meskipun sudah menjadi Muslimah.

“Anak-anak saya yang dapat angpao saat Imlek, namun kami yang sudah memeluk Islam tidak lagi memberikan angpao, nanti diganti saat Idul Fitri,” jelas Lily Haliem.

Kemeriahan Tahun Baru Imlek juga menjadi penyatu keluarga besar Lily Haliem yang memiliki beragam keyakinan. Mereka bertemu sambil menyantap makanan dan bergembira bersama. Anak-anak mereka saling belajar kehidupan dalam keberagaman ini, dimulai dari lingkungan keluarga.

“Engkong saya marga Liem. Om saya ada yang sudah Islam, juga ada yang Kristen, kalau Tahun Baru Imlek seperti ini kami berkumpul semuanya,” ungkap Lily Haliem.

Hal yang sama juga dilakukan keluarga ini jika Idul Fitri dan Natal tiba, mereka saling mengunjungi dan berbagi kebahagiaan.

Kisah Lily Haliem di Negeri Serambi Madinah ini tidak sendiri, banyak keluarga Tionghoa dengan kisah kehidupan yang mirip. Di antara keluarga mereka, banyak yang sudah menjadi Muslim dan berbaur tanpa canggung.

Keakraban saat Imlek juga terasa pada keluarga Maryam Lamadilaw (75), sesepuh masyarakat Tionghoa Gorontalo ini tidak mengenal usia senja. Ia melayani dan menjamu tamu-tamunya yang datang. Mereka adalah teman dan saudaranya meskipun berbeda agama.

Keceriahan tampak dari raut wajah tetamu yang umumnya seusianya. Mereka berpelukan dan saling tertawa saat bersenda gurau.

Negeri Serambi Madinah adalah rumah bagi banyak orang meskipun berbeda-beda agama dan suku. Dalam harmoni kehidupan, mereka tetap taat pada keyakinan masing-masing tanpa saling merendahkan atau menghina satu sama lain.

Kepada merekalah kita sebagai bangsa yang telah sepakat menjunjung tinggi prinsip Bhinneka Tunggal Ika layak belajar, bahwa hidup harmoni dan persaudaraan tetap bisa dijalin meski masing-masing memiliki keyakinan dan memeluk agama yang berbeda.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *