Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 December 2015

Haidar Bagir: Tanpa Musibah, Kita Tidak Akan Peka dan Naik Kelas


qt3

SMP Lazuadi Global Islamic School Jakarta untuk kali kedua mengadakan kegiatan Quality Time for Parents bertajuk ‘Keluarga Penuh Cinta’, Sabtu (5/12). Setelah dibuka dengan alunan Gamelan dari siswa siswi Unit Activity Gamelan, pembacaan Alquran, Haidar Bagir tampil untuk berbagi mengenai ‘Islam Cinta’. Pria kelahiran Solo ini bercerita mengenai agama Islam yang digambarkan secara umum di masyarakat sebagai agama yang keras dan berorientasi hukum.

Seringkali, lanjut penulis ‘Belajar Hidup dari Rumi’ ini, khotbah Jum’at di masjid digaungkan ancaman bila manusia berbuat dosa akan berada di neraka selamanya. Demikian juga pengenalan agama Islam kepada anak kecil dimana seringkali guru mengajarkan doa, ‘Hapuslah dosa-dosa kami yang banyak ini…’.

“Padahal yang sedang belajar adalah anak-anak usia balita yang masih murni pikirannya,”kata Haidar masygul.

Inti ajaran Islam sesungguhnya adalah cinta kasih, kata Haidar. Cinta adalah sifat hakiki Allah. Dalam Alquran tertulis, “Dia telah mewajibkan atas diriNya kasih sayang (QS Al An’am [6]: 12). Juga, Kasih sayangKu meliputi segala sesuatu (QS Al-A’raf [7]: 156), dan Sesungguhnya Tuhanku adalah Yang Maha Pemurah, dan Yang Maha Penyayang (QS Hud [11]: 80).

“Di dalam Alquran pula, hanya ada satu ayat yang menyebutkan Allah Maha Pembalas, bandingkan dengan 100 ayat yang menyebutkan Allah Maha Pengampun,” kata pria yang masuk dalam 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia 2015 versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC).

Dalam menggambarkan kehidupan Rasulullah, menurut pria yang juga pengajar tasawuf ini, pada umumnya pelajaran agama menonjolkan sejarah peperangan. “Padahal sepanjang karir Nabi selama 23 tahun, waktu yang dihabiskan dalam peperangan mungkin hanya 800 hari, sekitar 10%,” katanya

Dalam peperangan sekalipun, Alquran selalu segera mengaitkan perintah berperang dengan perintah agar tidak melampaui batas, siap memaafkan, dan mendahulukan perdamaian. Bahkan, Alquran mengisyaratkan, umat Muslim tidak menyukai peperangan, “diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Inti akhlak Rasulullah Saw adalah cinta dan kasih sayang, yang mengambil bentuk kemanusiaan pada tingkat yang paling tinggi seperti yang tertulis dalam Alquran, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS Al-Taubah [9]: 128)

Jika ingin menjadi Keluarga Penuh Cinta, kata Haidar menyimpulkan, tanamkanlah kecintaan pada Allah SWT dan pada Rasulullah SAW. Allah menyatakan bahwa alam semesta dan manusia diciptakan dalam komposisi atau bentuk terbaik, “Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dalam bentuk terbaik” (QS At Tin [95]: 4).

Bagi Haidar, tidak ada dari Allah yang terpancar darinya kecuali kebaikan. Bahkan hal-hal yang buruk tampaknya sesungguhnya ada demi terciptanya suatu kebaikan yang lebih besar. Jadi kesulitan, musibah, adalah bagian dari sistem tersebut yang pada akhirnya menuju kebaikan. Tanpa ujian, tanpa kesulitan atau musibah kita tidak akan peka dan tidak akan meningkatkan kepekaan. Tanpa adanya cobaan dan ujian, kita tidak bisa naik kelas.

 

Amira/Islam Indonesia. Sumber: Reza’s and Lukman’s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *