Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 17 May 2018

Habib Jindan: Bahkan Islam Ajarkan Kasih Sayang Sekalipun kepada Seekor Anjing


maxresdefault

islamindonesia.id – Habib Jindan: Bahkan Islam Ajarkan Kasih Sayang Sekalipun kepada Seekor Anjing

 

 

Islam mengajarkan penganutnya untuk peduli sesama manusia, apapun latar belakang agama, suku dan kulitnya. Semakin tinggi akhlak hamba Allah, semakin banyak pula kasih sayang yang ia curahkan kepada selainnya.

Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan mengatakan, hamba Allah mencurahkan kasih sayangnya tanpa pandang bulu. “Bahkan Islam mengajarkan kasih sayang sekalipun kepada seekor anjing,” katanya dalam acara Tarhib Ramadhan, Sekolah Lazuardi, 12 Mei, seperti ia ceritakan pada linimasa Ahmad Novel Jindan.

Habib Jindan mengingatkan kisah pelacur menolong anjing yang pernah diungkapkan oleh Nabi Muhammad. Kisah ini menjadi populer dalam dunia Islam sekaligus membantah pandangan ajaran Islam bersikap diskriminatif terhadap makhluk Allah bernama anjing.

Kala itu, sang pelacur  menemukan anjing yang kehausan. Karena iba terhadap kondisi binatang itu, kupu-kupu malam itu sigap mencari air hingga menemukan sumur.

Ia lalu kembali ke tempat anjing dengan membawa air dan meminumkannya ke mulut anjing. Atas perbuatan mulia itu, Allah memberikan pengampunan segala dosa yang melekat pada perempuan itu.

Irhamu man fil ardli yarhamkum man fis sama’” demikian hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Timidzi. “Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.”

Pesan Habib Jindan juga mengingatkan pembaca pada kisah Imam al-Ghazali yang tengah sibuk menulis kitab. Hal yang lazim dalam dunia kepenulisan adalah dengan menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan dulu ke dalam tinta baru kemudian dipakai untuk menulis, jika habis dicelup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.

Di tengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al-Ghazali. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.

Dari kisah tersebut, kita tahu bahwa betapa luas kasih sayang Imam al-Ghazali terhadap sesama makhluk, termasuk lalat yang pada saat itu datang “mengganggu” kenikmatannya dalam kegiatan menulis.[]

 

 

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *