Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 30 May 2017

Gus Mus: Tugas Kiai Ngemong Umat, Bukan Nambah Sumpek Umat


2344011WP-20131224-096780x390

islamindonesia.id – Gus Mus: Tugas Kiai Ngemong Umat, Bukan Nambah Sumpek Umat

 

“Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzha. Sudah cukup kematian ini sebagai nasihat.”

Demikian ungkapan pertama yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menyitir hadis Nabi Muhammad SAW saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan mauidah hasanah atau tausiyah dalam upacara pemberangkatan jenazah Mustasyar PBNU KH Mahfudz Ridwan di Ponpes Edi Mancoro, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (29/5/2017).

Menurut Gus Mus, sebenarnya tidak perlu ada tausiyah jika sudah ada nasihat dari sebuah kematian. “Sebab kalau dinasihati dengan kematian saja tidak mendal (mempan), maka dinasihati oleh ustaz, mubaligh tambah tidak mempan,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu Gus Mus bercerita mengenai sosok Kiai Mahfudz yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia. Menurut pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang ini, Kiai Mahfudz bukanlah tokoh sembarangan.

Ia menceritakan, setiap kali KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur harus bersikap dan mengeluarkan keputusan-keputusan penting, Gus Dur selalu menyatakan dirinya menunggu nasihat dari para Kiai Khos (khusus). Gus Mus meyakini berdasarkan penelaahan dan analisisnya, Kiai-kiai Khos di sekeliling Gus Dur itu salah satunya adalah Kiai Mahfudz.

“Beliau ini tidak main-main,” katanya. “Setelah saya menganalisis dan sebagainya, satu di antaranya (kiai khos) adalah Kiai Mahfudz Ridwan ini. Karena beliau ini yang selalu ngemong Gus Dur sejak masih belajar di Irak,” tambahnya.

Sosok Kiai Mahfudz ini, kata Gus Mus, merupakan tipologi kiai yang estu (tulen, sesungguhnya). Kiai yang sa’estu, katanya, adalah kiai yang melihat umat dengan mata kasih sayang. Kiai Mahfudz sebut dia, selalu ngemong dan mengayomi umat dari agama apapun.

“Lihatlah yang takziah beliau berasal dari berbagai lapisan, karena mereka merasa pernah diayomi,” ucapnya.

Kemudian tiba giliran Gus Mus untuk meminta kesaksian dari para pelayat ihwal rekam jejak Kiai Mahfudz, apakah tergolong manusia baik atau bukan.

Gus Mus mengawali persaksiannya itu dengan pernyataan, bahwa dirinya adalah adik seperguruan Kiai Mahfudz saat mondok di sebuah pesantren di Rembang. Gus Mus mengakui kebaikan Kiai Mahfudz yang pernah ngemong dirinya saat mondok tersebut.

“Kalau saya sudah menyaksikan sendiri kebaikan beliau. Sekarang saya ingin menanyakan baik atau tidak, saya ingin menyaksikan sendiri dari panjenengan yang hadir,” ujarnya.

“Sae nopo mboten (baik atau tidak)?” tanya Gus Mus tiga kali.

“Sae..Sae..Sae (baik, baik,baik),” jawab para pelayat.

Pada akhir tausiyahnya Gus Mus memanjatkan harapan agar generasi muda bisa mencontoh keteladanan dari sosok Kiai Mahfudz.

“Jadilah kiai yang ngemong umat, ngayomi semua umat. Jangan jadi kiai yang membuat bingung umatnya, jadilah kiai yang membuat tenang umat. Jangan jadi kiai yang menambah sumpeke (sulitnya) umat,” sebutnya.

Saat menyampaikan harapan ini Gus Mus menangis sesenggukan sebelum ia akhiri tausiyahnya dengan penutup salam.

 

EH / Islam Indonesia

0 responses to “Gus Mus: Tugas Kiai Ngemong Umat, Bukan Nambah Sumpek Umat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *