Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 01 December 2015

Gus Mus: Meminta Jabatan itu Tidak Baik


Gus-Mus2-menyapa-para-Ibu-Ibu-ketika-datang-ke-tenda-perjuangan-tolak-pabrik-semen.-Foto-Tommy-Apriando.

Yaqut “Gus Tutut” Cholil Qoumas akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor menggantikan Nusron Wahid di Yogyakarta, (27/11). Sontak lantunan sholawatan dalam ruang kongres menyambut terpilihnya Gus Tutut itu disusul ucapan selamat yang datang dari berbagai kalangan. Tidak seperti kebanyakan, KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri sempat ‘dilema’ bersikap ketika mendengar pria yang telah dianggapnya anak itu resmi menjabat nahkoda anyar GP Ansor.

“Akankah aku mengucapkan ‘Selamat’ atau ‘Belasungkawa’? Soalnya aku selalu melihat jabatan dan kedudukan lebih sebagai cobaan katimbang nikmat.” kata Gus Mus via akun pribadinya di media sosial sehari setelah terpilihnya Yaqut.

Bagi ulama senior Nahdatul Ulama ini, jabatan dan kedudukan merupakan amanah dan tanggungjawab. Jabatan, di mata Gus Mus, bukan anugerah yang patut diharap-harap. “Bagaimana jika jabatan itu ditawarkan?” tanya seseorang di akun Gus Mus.

Jabatan bagi Gus Mus bukanlah hal yang buruk. Yang tidak baik, munurut pria jebolan Al Azhar Mesir ini ialah: pertama, orang yang meminta jabatan. Kedua, lanjut Gus Mus, “orang yang tahu bahwa ada orang lain yang lebih pantas menduduki jabatan tersebut, lalu mengajukan diri atau menerima jabatan tersebut.”

Karakteristik ketiga yang tidak baik menurut Gus Mus ialah orang yang tahu dan yakin tidak ada orang lain yang pantas menduduki jabatan itu kecuali dirinya dan dia tidak mau mendudukinya. Oleh sebab itu, pria kelahiran Rembang ini mengharapkan Gus Tutut menjadikan kepemimpinan Rasulullah Saw sebagai contoh. Rasulullah SAW, menurut Gus Mus, adalah pemimpin yang menyintai dan dicintai umatnya.

“Pemimpin yang ikhlas melayani umat yang dipimpinnya dan mendahulukan kepentingan mereka dari pada kepentingan dirinya sendiri. Pemimpin yang mengarahkan, bukan menyesat-nyesatkan. Pemimpin yang ditaati karena dicintai, bukan karena ditakuti,” lanjut Eks Rais Aam NU ini dalam pesannya kepada keponakannya, Yaqut.

Ketua Umum Ansor, lanjut Gus Mus, diharapkan dapat memikirkan dan mengupayakan agar Ansor dan warganya bisa benar-benar mandiri. Sedemikian sehingga, selain dirinya hanya mengandalkan Allah SWT.

“Pertahankan keyakinan dan ajaran sesepuh dalam hal: ber-Islam ala Ahlis Sunnah wal Jamaah dan pemahaman Islam Rahmatan lil ‘Ãlamïn serta ber-Indonesia dengan cerdas, santun, dan arif,” katanya sambil mengingatkan untuk memohon pertolongan Allah dalam setiap upaya dan langkah.

 

Edy/ Islam Indonesia/ Foto: Mongabay

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *