Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 22 January 2019

Gus Mus: Lihat Apa yang Dikatakan Jangan Melihat Siapa yang Mengatakan


GUS-MUS-TANDA-KEKUATAN-IMAN

islamindonesia.id – Gus Mus: Lihat Apa yang Dikatakan Jangan Melihat Siapa yang Mengatakan

 

KH Mustofa Bisri (Gus Mus), pada Sabtu (19/1) malam mengisi tausiyah dalam acara Haul ke-20 KH Muslich di Perguruan Diponegoro Jalan Sunan Giri, Masjid Jami’ Al-Hidayah Rawamangun, Jakarta Timur.

Dalam tausiyahnya Gusmus mengajak umat Islam untuk hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Termasuk menurutnya tidak boleh berlebih-lebihan dalam agama (ghuluw), sebagaimana dilansir dari NU Online.

“Berlebih-lebihan itu membuat kita tidak adil sejak dari pikiran. Apalagi berlebih-lebihan dalam mencintai atau membenci,” ujarnya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini, jika orang membenci dengan berlebih-lebihan maka hilang akalnya. Apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh orang yang dibencinya akan selalu salah.

“Jika sampean (Anda) benci sama saya, saya ngomong 2×2=4 akan sampean salahkan. 2×2 itu 5-1, pokoknya nggak sama saja dengan saya,” ujar Gus Mus memberi contoh.

Hal ini dapat dilihat di media sosial ketika banyak orang yang pintar namun tidak menggunakan akalnya sama sekali. Hilang semua akalnya bahkan saat diberi sesuatu yang obyektif juga tidak bisa menerima, karena yang dilihat bukan apa yang dibicarakan tapi siapa yang berbicara, kata Gus Mus menjelaskan.

“Dulu orang melihat man qola (apa yang dibicarakan). Undzur ma qala wala tandzur man qola. Lihat apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan. Sekarang itu nggak laku. Sekarang lihat orangnya dulu. Malah sekarang orangnya sudah tidak ada. Yang ada cuma cebong sama kampret,” kata Gus Mus disambut senyum yang hadir.

Gus Mus menambahkan bahwa makhluk Allah yang bisa berpikir dengan jernih dan dimuliakan oleh Allah hanya manusia. Jadi menurutnya, jika kita ingin dekat dan dimuliakan Allah SWT cukup dengan tidak berlebih-lebihan dan tetap menjadi manusia sederhana.

“Kalau kita sederhana, berpikir kita jadi jernih. Kalau berlebih-lebihan tidak akan bisa,” pungkasnya.

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *