Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 04 April 2017

Gus Mus Lebih Tertarik Melukis Ketimbang Sibuk Urusi Pilkada


Gus Mus Lebih Tertarik Melukis Ketimbang Sibuk Urusi Pilkada

islamindonesia.id – Gus Mus Lebih Tertarik Melukis Ketimbang Sibuk Urusi Pilkada

 

Lukisan KH Ahmad Mustofa Bisri berjudul Berdzikir Bersama Inul sempat dipajang di lokasi pameran Pekan Muharram 1424 H, tepatnya awal Maret 2003 di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya. Lukisan kontroversial yang memperlihatkan perempuan sedang berjoget di tengah para Kiai bersurban itu, sempat dihargai Rp 75 juta.

“Lukisan itu tergantung yang melihat, negeri kita itu banyak semuanya serba daging, orang terlalu memuja daging berlebihan sampai lupa kepada jiwa,” kata Gus Mus, sapaan akrab pria kelahiran 1945 itu.

Pada September 2014, beberapa lukisan karya Gus Mus seperti Hanya Lafal, Mulut-mulut, Pencitraan, O, Islamku, Potret Diri, Sujud, Tuhan yang Akan Menolongku, Bismillah, Alif, dan lainnya dipamerkan di Balairung Universitas PGRI Semaran, Jawa Tengah. Pameran itu digelar menandai 70 tahun usianya.

Kecintaan Mustasyar PBNU ini terhadap seni lukis dimulai ketika ia masih muda. Sebagaimana dilansir dari beritagar.id, Gus Mus kerap menemani orang cacat berkursi roda di sudut Kota Rembang. Dia bukan pengemis, tapi merupakan pelukis wajah. Dari orang itu dirinya tahu bagaimana cara gambar dan mengarsir wajah dengan pensil.

Bakat lukisnya makin terasah saat kuliah. Ia belajar dari Affandi ketika bertemu di Mesir. Saat itu sang maestro sedang dikirim Pemerintah Jepang keliling dunia untuk melukis, termasuk ke Kairo, Mesir, kota tempat sekolahnya.

Sebagai mahasiswa, Gus Mus menawarkan diri jadi pemandu Affandi selama di sana. Hal itu disetujui Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI). Jadilah ia menemani Affandi melukis di Mesir beberapa kali.

Ia melihat sendiri Afandi melukis dengan beberapa asistennya. Menurut Gus Mus, Affandi melukis seperti budayawan Zawawi Imron saat menulis puisi. “Kayak kesurupan, apa yang ada di kepala spontan saja dituangkan dalam karya,” tutur Gus Mus.

Sabtu (1/4/2017) lalu, Gus Mus melalui akun Facebooknya mengunggah lukisan baru. Lukisan dengan bentuk seperti gelombang itu, tidak diberi judul. Sebaliknya, Kiai asal Rembang itu justru minta pengguna media sosial untuk memberi saran.

“Kalau seniman sungguhan saja ada yang bingung menjuduli lukisannya; apa lagi aku yang pelukis dadèn-dadèn. Jadi aku minta saran juga, menurut Anda lukisanku ini baiknya dijuduli apa?” tanya Gus Mus kepada netizen.

Sontak saja, hanya dalam hitungan menit, para netizen nimbrung di laman komentar dengan menulis beragam judul.  Di antara 1.024 komentar, ada yang menulis, Rindu Menderu, Riuh Heningku, Tabuhan Ombak, Menepi, juga Jejak Badai serta beragam judul lainnya.

Di hari dan tanggal yang sama, Gus Mus kembali mengunggah foto lukisannya. Tetap saja, tidak ada judul atau keterangan pasti, ini lukisan apa. Hanya sebuah keterangan singkat.

“Entah mengapa saat banyak orang serius dengan urusan pilkada dan dukung-mendukung, aku malah tertarik untuk melukis dan melukis …” tulis Gus Mus.

Bagaimana kalau lukisan dengan bentuk seperti gelombang itu dijuduli Badai Pilkada, Gus?

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *