Satu Islam Untuk Semua

Friday, 04 September 2015

Gus Mus: Kiai di Iran Mampu Bicara Budaya, Politik, bahkan Militer. Tanya Mengapa? 


IMG_20150903_114240

Sekitar 500 orang mahasiswa dan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengikuti orasi budaya bertajuk “Ilmu yang Bermanfaat” dari KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri pada Kamis (3/9).

“Kami memiliki kompetensi untuk ilmu alam, termasuk kehutanan. Namun satu gejala yang sangat ironis. Ketika Iptek di Indonesia makin maju, lulusan sarjana semakin banyak tapi ternyata kerusakan juga terjadi di mana-mana. Mungkin ada sesuatu yang kurang dalam pendidikan kita,” kata Dekan Fakultas Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, dalam sambutannya menjelaskan alasan mengundang tokoh sepuh Nahdatul Ulama ini.

Gus Mus, yang juga ditemani oleh ‘Sastrawan Sufistik’, Candra Malik, mulai menjelaskan salah satu fenomena trend modernisasi. Semakin modern zaman ini semakin banyak spesialisasi bidang ilmu.

“Dulu, penyanyakit apa saja doketernya ya hanya satu itu, yaitu dokter umum. Ketika modern, sudah ada dokter khusus gigi, THT … bahkan kabarnya, ada dokter THT khusus anak dan dewasa,” kata Gus Mus memberikan pengantar.

Pembagian ilmu  ‘umum’ dan ‘agama’ di masyarakat luas juga tak terhindarkan. Bagi pengasuh Pesantren Raudlatuh Tholibin ini, dikotomi antara ilmu umum dan agama itu warisan kolonial Belanda.

Tidak sedikit orang yang memandang jika lulusan pesantren itu urusannya hanya ‘agama’ seperti ceramah dan ngaji kitab kuning. Adapun lulusan perguruan tinggi seperti UGM urusannya kehutanan, pertanian, politik dsb.

Bagi mereka, ilmu agama itu urusannya ‘akhirat’, dan ilmu umum itu urusannya ‘dunia’. Gus Mus berpendapat, dalam Islam, ilmu sebenarnya hanya satu. Dan setiap Muslim, oleh nabinya, diwajibkan mencarinya.

“Dari ilmu yang fardhu (wajib) ini dibagi dua; fardhu ‘ain dan kifayah. Fardhu ‘ain itu ilmu tentang gusti Allah Ta’ala. Jadi setiap orang dalam Islam harus kenal Tuhannya. Selain itu, semuanya fardhu kifayah termasuk  kehutanan.  Jika sebagian orang, seperti Anda, belajar tentang kehutanan, maka saya tidak wajib lagi belajar kehutanan,” jelas Gus Mus.

Lebih mendasar dari semuanya itu adalah niat. Menurut pria berambut putih ini, orang yang kelihatannya belajar membaca Alqur’an bisa saja hanya sekedar mencari duniawi.

Di sisi lain, orang belajar ilmu kehutanan untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam di desanya bisa memiliki kesadaran religius yang tinggi.

“Sekarang banyak pesantren yang sudah menyadari bahwa dikotomi ‘umum’ dan ‘agama’ itu bikinan Londo (Kolonial Belanda)” kata Gus Mus.

Pria berusia 71 tahun ini juga mencotohkan, “Para kiai di Iran mampu berbicara budaya, politik bahkan militer. Mengapa? Karena ilmunya integral. Tidak ‘dipisah-pisah’.”

Pandangan dikotomis seperti ini juga berimbas pada penilaian yang hanya dibatasi pada simbol lahiriah. Padahal sisi batin seperti niat sangat menentukan tindakan seseorang.

Tidak sedikit orang menganggap bahwa seorang Muslim itu yang  memamakai peci atau bersurban dan berjubah.

“Padahal saya memakai peci ini karena saya adalah pengagum Soekarno. Bukan karena ini simbol Islam, tapi ini adalah simbol Indonesia” kata Gus Mus sambil menunjuk peci hitam di atas kepalanya yang disambut dengan tepuk tangan

Dari cara pandangan tentang ilmu yang keliru itu akhirnya berdampak pada kualitas pedidikan bangsa ini masih jauh dari yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini.

Tidak hanya dikotomi ‘agama’ dan ‘umum’, ulama yg produktif menulis ini juga mengatakan bahwa masyarakat perlu membedakan antara pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah). Kebanyakan orang di bangsa ini terpelajar tapi sedikit yang terdidik.

Pengajaran hanya cenderung mentransfer ilmu yang berupa teori atau konsep. Adapun pendidikan, tidak hanya transformasi ilmu tapi juga membentuk mental manusia sebagaimana yang diajarkan itu.

“Saya sering mengatakan pada sahabat-sahabat di desa-desa bahwa para pemimpin kita saat ini, termasuk anggota dewan yang terhormat itu, adalah hasil ‘pendidikan nasional’ kita. Ini logis atau tidak? Mereka menjawab, logis.”

 

YS/ Islam Indonesia/ Foto: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *