Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 October 2015

Gus Mus: Jika NU-Muhammadiyah Dibenturkan, Negara Bisa Hancur


gusmu

Kritik Muhammadiyah atas ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi (15/10) ditanggapi oleh tokoh senior Nahdatul Ulama, KH. Mustafa “Gus Mus” Bisri. Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatu Tholibin ini, perbedaan pendapat di kalangan umat Islam itu lumrah sehingga tidak perlu ditanggapi secara berlebihan apalagi terbawa oleh emosi. Mantan Rois ‘Aam PBNU ini meminta kedua belah pihak dapat menahan diri dan saling menghormati dalam perbedaan memandang Hari Santri yang telah ditetapkan pada 22 Oktober.

“Kalau ada kelompok lain kurang sependapat, santri sebaiknya tetap menghormati. Semisal belakangan dari kalangan Muhammadiyah tidak setuju penetapan Hari Santri Nasional, santri NU jangan menyerang balik,” kata  Gus Musa saat menerima kedatangan rombongan peserta Kirab Panji Resolusi Jihad di Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, Senin, (19/10).

Perbedaan pendapat yang diikuti oleh perpecahan apalagi konflik, menurut Gus Mus, justru yang perlu diwaspadai. Termasuk mewaspadai pihak-pihak yang menginginkan bangsa ini hancur dengan mengadu domba Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Kedua ormas besar Islam ini memiliki sejarah yang pajang dan akar rumput yang kuat di Indonesia. Ketidakharmonisan keduanya bisa berdampak luas pada keutuhan bangsa yang telah merdeka sejak 70 tahun lalu ini.

“Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah merupakan aset kekayaan bangsa Indonesia. Jika kedua belah pihak dapat dibenturkan dan hancur, negara ini pun bisa hancur,” kata pria 71 tahun ini.

Sebelumnya, Muhammadiyah telah melayangkan surat kebaratannya atas ketetapan Hari Santri Nasional kepada Presiden Jokowi. Ormas yang kini dibawah nahkoda Haidar Nasir ini, dalam surat keberatannya, memahami komitmen Jokowi menetapkan Hari Santri sebagai janji politik dan penghormatan terhadap jasa umat Islam.

“Akan tetapi, dalam pandangan kami, penetapan Hari Santri potensial menimbulkan sekat-sekat sosial, melemahkan integrasi nasional, dan membangkitkan kembali sentimen keagamaan lama yang selama ini telah mencair dengan baik.” Kata Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam surat keberatannya yang ditulis 19 Oktober 2015.

Hari Santri, yang diperingati hari ini, bagi Haidar Nasir, menafikan perjuangan kalangan Islam yang tidak terlibat dalam peristiwa 22 Oktober. Haidar berharap, semangat ukhuwah yang lebih luas di tubuh umat Islam tetap utuh, tidak terkotak-kotak pada kategorisasi santri dan non-santri.

Edy/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *