Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 07 September 2017

Gus Mus Jadi Penyair Gara-gara Gus Dur  


Gus Mus Jadi Penyair Gara-gara Gus Dur

islamindonesia.id – Gus Mus Jadi Penyair Gara-gara Gus Dur

 

“Saya diminta Gus Dur untuk membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Padahal saya hanya orang desa dan santri sarungan yang tak mengerti sastra dan puisi kok diminta tampil di Ibu Kota.”

Pernyataan yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri dalam buku Gus Dur Dalam Obrolan Gus Mus karya Husein Muhammad (2015) di atas, merupakan pengakuan Kiai yang saat ini juga dikenal sebagai budayawan dengan kemahiran melukis dan menulis puisi itu, bahwa sosok Gus Dur-lah salah satu penyebab dirinya menjadi seoang penyair.

Lebih jauh disampaikannya pula, bahwa permintaan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itulah yang membuat Gus Mus, sapaan akrabnya, terpaksa menuruti karena tak enak hati menolaknya.

Saat itu, kisah Gus Mus, Gus Dur menjabat ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang akan menyelenggarakan acara Malam Solidaritas untuk Palestina. Acara itu diisi pembacaan puisi-puisi karya penyair mashur Palestina. Banyak penyair, sastrawan dan cendekiawan Indonesia kondang dan terkemuka yang ikut ambil bagian dalam acara itu seperti Taufik Ismail, Subagyo Sastrowardoyo, WS Rendra, dan Zamawi Imron. Namun sayangnya, dari sekian banyak tokoh itu, tak ada satupun yang mampu membaca puisi dalam bahasa Arab. Mungkin itulah alasan Gus Dur akhirnya mengajak Gus Mus ikut unjuk gigi.

“Gus Dur menelepon dan meminta saya membaca puisi dalam bahasa Arab di arena bergengsi itu. Eh, saya malah bingung lagi. Apa yang akan saya bacakan?” kisah Gus Mus.

Lalu dibongkarlah lemari kitab dan buku, hingga menemukan sebuah puisi yang pas. Namun tetap saja Gus Mus dilanda bingung bukan kepalang ketika itu. Ia bingung bagaimana cara membacanya, bagaimana gayanya, aktingya seperti apa, dan tangannya harus bagaimana?

Kisah berlanjut, akhirnya malam itu tiba. Gus Mus bersyukur karena gilirannya yang terakhir. Namun, tiba-tiba puisi dengan bahasa Arab-lah yang harus tampil pertama.

Grogi, gugup dan cemas menyelimuti dirinya. Usut punya usut, ternyata, Gus Mus sempat menyontek cara penyair kondang Subagyo Sastrowardoyo membaca puisinya.

“Nah kok ya, tibane (ternyata) biasa-biasa saja, seperti membaca tulisan biasa, datar-datar saja, tak belagu dengan intonasi naik-turun,” aku pria jebolan Universitas Al-Azhar, Mesir itu.

“Tetapi yang penting, ternyata membaca puisi itu iso sa’karepe dewe, ga ono aturane (bisa semaunya sendiri, tidak ada aturannya),” tambahnya.

Sejak saat itu lah, Gus Mus dikenal sebagai penyair. Gara-gara itu, sampai sekarang ia diundang ke sana kemari, bahkan sampai luar negeri untuk membaca puisi dan ceramah agama.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *