Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 23 September 2015

GEOPOLITIK – Menerka Wajah Baru Timur Tengah


raja salman

Kesepakatan nuklir yang dicapai Iran dan kelompok P5+1 (Amerika, Cina, Inggris, Perancis, Rusia plus Jerman) bulan lalu, yang dituangkan dalam bentuk Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JPCAO), tampaknya membuat Timur Tengah bergolak dan memunculkan sebuah blok baru yang tak terduga.

Banyak pihak yang berusaha menggagalkan kesepakatan itu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyempatkan diri sowan ke Kongres –meski tanpa undangan Presiden Amerika Barack Obama, yang akhirnya malah memperkeruh hubungan kedua pemimpin—untuk meyakinkan para wakil rakyat Amerika bahwa menyetujui kesepakatan berarti mengizinkan Iran, menurutnya, “memproduksi senjata nuklir”. Kongres sendiri terbelah dua; sebagian menerima kesepakatan, sebagian menolak. Obama mengancam akan memveto keputusan Kongres jika mereka memilih menolak kesepakatan. Kerasnya perjuangan pemerintahan Obama dalam menggolkan kesepakatan di Kongres sempat disejajarkan oleh editorial Tehran Times dengan perjuangan Presiden Lincoln untuk menghapus perbudakan di Negara Paman Sam satu setengah abad lalu.

Amerika mengklaim kesepakatan nuklir itu akan mengakhiri 30 tahun lebih isolasi Iran di dunia internasional dan mengembalikan kekuatan, kekuatan dan pengaruh Iran di kawasan. Klaim ini membuat sekutu Amerika di Kawasan blingsatan, utamanya Arab Saudi, sekutu 70 tahun Amerika. tergopoh-gopoh, Raja Salman bin Abdulazis Al Saud, datang ke Amerika untuk memastikan kalau aliansi kedua negara masih sekokoh pohon beringin yang tak akan tumbang dihantam badai. Keengganan Amerika terlibat lebih jauh dalam perang Suriah dan Yaman merupakan sebab lain kunjungan ini.

Mungkin ingin menekan Amerika, Arab Saudi via OPEC berusaha mendekati Rusia. OPEC mengatakan bersedia bekerja sama dengan anggota non OPEC demi ‘menghadapi tantangan dalam industri minyak’ lewat pembatasan kuota penjualan minyak. Tapi Rusia yang juga terjerat sanksi Eropa sekaitan konflik Ukraina, menolak isyarat OPEC dan tak rela mengetam penjualan minyaknya meski itu berpotensi melambungkan harga. Gagal di sini, Saudi lalu membahas pembelian pembangkit listrik tenaga nuklir dan perlengkapan militer dari Rusia. Lewat langkah ini, seolah Saudi ingin membangunkan tidur siang Amerika dan Inggris sebagai pemasok lama senjata ke Saudi. Atau mungkin ingin menggambarkan bahwa kini Saudi ‘independen’ dari sekutu-sekutunya.

Gaung kesepakatan nuklir Iran membuat Saudi merasa perlu menjalin aliansi militer dengan Israel; sebuah aliansi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saudi bahkan mengizinkan Israel memakai wilayah udaranya jika sewaktu-waktu perang dengan Iran pecah. Saudi juga berjanji akan mengekspor emas hitam ke rezim yang sejak setengah abad lalu menduduki Palestina.

Terciptanya blok baru ini kini membuat banyak pihak bertanya-tanya, peristiwa apa yang akan selanjutnya mengemuka di Timur Tengah dan seperti apa dampaknya pada dunia. Tak tertutup kemungkinan yang melintas dari tikungan sejarah nantinya mengejutkan semua pihak.

Anisa/Fiscal Times. Gambar: USA Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *