Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 09 October 2018

Gelap Gulita di Titik Nol Kota Palu


eight_col_QUAKE

islamindonesia.id – Gelap Gulita di Titik Nol Kota Palu

 

Posko Kemanusiaan ABI Sulteng penah ditempatkan di Markas Denpom Sulteng. Tak jauh dari Posko Kemanusiaan ABI itu, terdapat tempat yang dikenal masyarakat sebagai titik nol kota Palu. Ini berarti ia adalah pusat kota. Sayangnya, hingga hari keempat masih mengalami kegelapan.

Saat gempa mengguncang dan tsunami menerjang, instalasi listrik terputus. Gardu-gardu listrik dihentikan operasinya.

Sebanyak 7 gardu listrik berhenti beroperasi. Kerumitan instalasi terlihat jelas. Kabel-kabel listrik acak-acakan. Tiang listrik tercabut dan tumbang silang-menyilang menghalangi jalanan laksana portal di kompleks perumahan.

Menghindari sengatan arus, hingga hari keempat hanya dua gardu yang berhasil diaktifkan. Gardu yang melayani pusat kota belum dihidupkan.

Efeknya sangat terasa di malam hari. Sunyi senyap bak negeri tak bertuan. Tak ada pelaku usaha yang betah dalam situasi ini kecuali memang tak punya pilihan lain.

Malam hari tempat ini seakan diseret kembali ke era sebelum kemerdekaan. Jam 18.00 senyap sudah mulai menyelimuti kota. Aktivitas penduduk terbatas di rumahnya masing-masing.

Kegelapan ini teratasi setelah personil PLN Sulutenggo mulai beraksi. Hari kelima pengecekan instalasi dilakukan. Tiang-tiang yang tercabut dari tanah mulai didirikan kembali. Kabel listrik bertegangan tinggi dipastikan normal.

Sore harinya, 4 Oktober 2018, gardu listrik yang melayani pusat kota mulai dicoba. Listrik mulai dihidupkan. Warga titik nol ini ternyata sudah tak menempati kediamannya. Radius lima ratus meter dari titik nol hanya terlihat tak lebih dari sepuluh rumah yang membuka pintunya. Hanya satu tempat usaha yang mencoba memanfaatkan listrik itu. Tak jauh dari sana sebuah gereja yang berdiri kokoh juga memperlihatkan aktivitas.

Di sekitar titik nol hanya sedikit rumah penduduk. Ia dikelilingi oleh tempat-tempat usaha dan pusat belanja. Titik nol di Jalan Sultan Hasanuddin itu kini memang dialiri listrik namun kadang dimatikan beberapa jam.

Pada malam hari gelap gulita di titik nol menggambarkan kelumpuhan kota. Ekonomi belum juga mengalir ke sum-sum penduduk kota. Uang tak berharga dalam beberapa hari. Persis gelapnya malam di titik nol.

Mesin ATM di sekeliling titik nol sudah ada yang dibaringkan penjarah. Isinya dikuras di tengah kelengahan aparat yang juga ikut diperbantukan melayani korban.

Dihantui kejahatan penjarahan, titik nol terasa pasrah, tak sama dengan warga yang beriak panik. Barang-barang dibiarkan terkunci di dalam ruangan.

Aparat keamanan di siagakan menjaga ruko-ruko dan supermarket. Begitu juga kantor pemerintah yang masih berdiri. Sebatang lilin dan senter kecil menjadi barang yang sangat dijaga.

Seruan azan di beberapa mesjid juga hanya laksana surau di pedalaman era lalu. Jamaah salat wajib amat sepi. Dalam gulita jamaah salat dihantui kerasnya guncangan.

Parau suara para pengurus masjid melantunkan azan. Mata sembab masih diperlihatkan di sela zikirnya. Titik nol yang gelap gulita menjadi syahdu dengan hikmatnya zikir. Terbersit harapan mewakili semua warga agar kegelapan ini segera berlalu.

Kini titik nol itu sudah terang. Cahaya listrik sudah menyiram sudut-sudut jalan dan bangunan di malam hari. Namun kegelapan asa masih menyelimuti warga yang berdomisili di sana. Dari kejauhan mereka masih berharap agar titik nol kembali berdenyut kencang dan mengalirkan kekuatan ekonomi, sosial, dan budaya ke dalam nadi masyarakat.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *