Satu Islam Untuk Semua

Monday, 29 August 2016

Facebook, Twitter dan Google Dituding Gagal Cegah Rekrutmen Teroris via Dumay


3D plastic representations of the Twitter, Facebook and Youtube logos are seen in front of a displayed ISIS flag in this photo illustration shot February 3, 2016. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo - RTX2MYUH

Islamindonesia.id–Facebook, Twitter dan Google Dituding Gagal Cegah Rekrutmen Teroris via Dumay

 

Facebook, Twitter dan Google dituding tidak cukup ketat mencegah jaringan sosial mereka dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstrimis untuk perekrutan, kata sebuah panel anggota parlemen Inggris, Kamis (25/8).

Kegagalan untuk bertindak dari sejumlah raksasa penyedia jasa media sosial itu, kata komite urusan keamanan dalam negeri Inggris itu, akan menjadikan internet layaknya “the ‘Wild West’ era ini.

Laporan komite itu diterbitkan setelah jumlah penangkapan terkait kontra-terorisme di Inggris meningkat 35 persen sejak tahun 2010, meskipun belum ada serangan teroris dengan korban massal sejak pemboman London di tahun 2005.

Diperkirakan ada sekitar 800 orang Inggris telah berperang di Suriah dan Irak.
Ancaman serangan teroris internasional yang secara resmi dikeluarkan pemerintah Inggris saat ini berada pada tingkat “serius”, yang berarti serangan dianggap sangat mungkin sewaktu-waktu terjadi.

Keith Vaz, seorang anggota parlemen senior dari oposisi Partai Buruh yang memimpin komite bahkan menyebut internet sebagai ”aliran darah Daesh dan kelompok teroris lainnya.”

Daesh adalah istilah lain untuk militan ISIS, juga dikenal dengan singkatan ISIL atau di Indonesia juga populer dengan singkatan NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

“Perusahaan besar seperti Google, Facebook dan Twitter dengan pendapatan miliaran dolar mereka secara sadar gagal meredam ancaman ini dan tetap menangguk uang dengan bersembunyi di balik status hukum multinasional mereka, meskipun mereka tahu bahwa situs mereka sedang digunakan oleh penggiat teror,” kata Vaz.

Komite itu lantas menambahkan: “Perusahaan-perusahaan itu hanya memiliki tim yang terdiri atas beberapa ratus orang untuk memantau jaringan miliaran akun. Bahkan perusahaan seperti Twitter tidak proaktif melaporkan konten ekstrimis yang terpantau kepada lembaga penegak hukum.”

“Jika mereka terus gagal mengatasi masalah ini dan memungkinkan platform mereka untuk menjadi ‘Wild West’ internet, itu akan mengikis reputasi mereka.”

Twitter mengatakan pekan lalu bahwa ia telah membuang 235.000 akun dalam enam bulan terakhir, menaikkan angka keseluruhan yang ditangguhkan menjadi 360.000 sejak pertengahan 2015.

Laporan komite juga menyebutkan bahwa Google telah menghapus 14 juta konten video di seluruh dunia pada 2014 tetapi komite menganggap langkah-langkah itu seperti “setetes air di lautan”.

Vaz mengatakan bahwa unit polisi Inggris yang berurusan dengan konten ekstrimis di dunia maya harus diperluas. Bakat-bakat terbaik dari industri video game harus direkrut untuk membantu “propaganda anti-teroris,” katanya.

Komite juga “menyesalkan” minimnya dukungan kepada keluarga yang anak-anak mereka ikut bepergian berperang di Suriah dan Irak.

Ia menyebut strategi “Pencegahan” pemerintah yang bertujuan mengatasi akar penyebab ekstremisme di Inggris sebagai kontroversial, dan menyarankan namanya diganti menjadi “Pelibatan diri” untuk membuang efek ‘beracun’ asosiasi istilah itu terhadap komunitas Muslim.

Sejumlah kritik mengatakan bahwa strategi Pencegahan itu mendorong publik melihat seluruh komunitas Muslim dengan kecurigaan dan berisiko memicu Islamofobia lebih besar.

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *