Satu Islam Untuk Semua

Friday, 15 December 2017

Empati Dahsyat Sepakbola Dunia Untuk Palestina


Empati Dahsyat Sepakbola Dunia Untuk Palestina

islamindonesia.id – Empati Dahsyat Sepakbola Dunia Untuk Palestina

 

Pengakuan sepihak Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel oleh Amerika Serikat, dari yang semula bertempat di Tel Aviv, menuai banyak reaksi sekaligus simpati dari masyarakat dunia. Tak sedikit yang mengecam ucapan Donald Trump tersebut, dan banyak yang menunjukkan dukungannya pada Palestina, tak terkecuali di dunia sepak bola.

Sejak seminggu yang lalu, cukup banyak bentuk dukungan pada Palestina yang telah dilakukan pelaku lapangan hijau, mulai dari pemain, klub, hingga koreo suporter. Berikut beberapa di antaranya:

Selebrasi Abderrahmane Hachoud

Dari Liga Aljazair, muncul dukungan yang diberikan oleh pemain MC Alger, Abderrahmane Hachoud, setelah ia mencetak gol ke gawang USM El Harrach, pada 7 Desember lalu.

Di pertandingan yang dimenangi oleh MC Alger dengan skor 2-0 tersebut, Hachoud mencetak gol yang sangat indah lewat tendangan bebas, dan ketika berselebrasi menunjukkan kaus dalamnya yang bermakna “Yerusalem adalah Ibu Kota Palestina”.

Chants Suporter Wydad Athletic

Wakil Afrika di Piala Dunia Antarklub, Wydad Athletic, tak mau ketinggalan menyuarakan simpatinya pada Palestina. Melalui para suporternya saat menyaksikan laga kontra Pachuca, chants bernada dukungan untuk negara yang sedang dilanda konflik berkepanjangan itu disuarakan di dalam stadion.

Dukungan ini bukan pertama kalinya yang pernah dilakukan pendukung Wydad. Sebelumnya, suporter klub asal Maroko ini pernah membentangkan spanduk yang bertuliskan “Free Palestine” dan mengibarkan ratusan bendera kecil Palestina, saat memastikan gelar juara di Stade du Père Jégo beberapa waktu lalu.

Kecaman Suporter Celtic FC

Mungkin inilah bentuk kecaman yang paling lantang atas keputusan Donald Trump. Ketika suporter Celtic FC bertandang ke markas Hibernian FC, beberapa suporter di belakang gawang membentangkan spanduk yang bertuliskan cacian pada sang presiden Amerika Serikat.

Sama seperti suporter Wydad, aksi ini juga bukan yang pertama kalinya dilakukan pendukung Celtic. Pada awal musim 2016/2017 lalu, ketika berlaga di play-off Liga Champions melawan klub Israel, Hapoel Beer Sheva, sekitar 100 pendukung Celtic memegang bendera Palestina di tangan mereka, dan mengibarkannya di kandang Hapoel, sebagai bentuk protes atas invasi yang dilakukan Israel pada Palestina.

Koreo Suporter Al-Faisaly

Bergeser ke Yordania, dukungan untuk Palestina juga disuarakan oleh pendukung Al-Faisaly, saat menyaksikan klub kesayangannya berlaga di stadion, akhir pekan lalu. Dari koreo tersebut, tampak tulisan “Palestina” dibuat dari huruf Arab, yang dibentuk dari kertas berwarna biru dan putih, sesuai warna jersey klub kebanggaan mereka.

Dari Liga Eropa untuk Palestina

Tidak ketinggalan, di kasta kedua kompetisi antarklub Eropa, dukungan pada Palestina juga muncul dari dalam stadion. Adalah suporter İstanbul Başakşehir, klub asal Turki, yang menyuarakan dukungan mereka, ketika mengalahkan SC Braga di matchday terakhir Grup C.

Dalam laga yang dimenangkan Başakşehir dengan skor 2-1 di kandang itu, para suporter mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan “Kami bersamamu selama 90 menit, dan bersama Quds (Yerusalem) selamanya.”

Amerika Latin pun Tak Ketinggalan

Tak hanya di Eropa dan Afrika, dukungan pada Palestina juga mengalir dari Amerika Latin, tepatnya dari sebuah klub di Liga Cile, bernama CD Palestino. Nama Palestina yang dimodifikasi ke bahasa Latin memang sengaja disematkan ke klub ini, karena didirikan oleh para imigran Palestina yang bermukim di Cile, pada tahun 1920 lalu.

Dari gambar yang diunggah salah seorang pengguna Twitter ini, tampak sekelompok suporter CD Palestino memegangi spanduk bertuliskan “Jerusalem es y sera Palestina”, yang berarti Yerusalem adalah Ibu Kota Palestina.

Aksi tersebut dilakukan ketika klub penghuni peringkat 15 Liga Cile ini menahan imbang Santiago Wanderers tanpa gol pekan lalu, yang memastikan mereka bertahan di kasta tertinggi Liga Cile, dan Santiago harus terjun ke play-off degradasi.

***

FIFA sebenarnya telah melarang beragam aksi beraroma politik yang dilakukan di pertandingan, baik itu selebrasi para pemain, maupun koreo dan spanduk yang dibentangkan oleh suporter. Namun, jika sudah menyangkut penderitaan sesama manusia seperti ini, siapa yang peduli?

Klub-klub maupun para pemain di atas mungkin pada akhirnya akan terkena sanksi bervariasi mulai dari denda atau larangan bertanding, tapi nilainya tak akan sebanding dengan perbuatan mulia yang telah mereka lakukan.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *