Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 18 February 2014

Emha Ainun Nadjib: Iblis Itu Taat Pada Allah


maiyah.net

Benarkah iblis sebagai makhluk terlaknat?


Makhluk bernama iblis, setan, dan turunannya kerap dipakai oleh manusia sebagai julukan bagi sesuatu hal yang menakutkan, terkutuk, dibenci Tuhan, dan bahkan terlaknat. Tak heran, dengan beratnya beban kejahatan yang dibebankan tanggungannya kepada iblis ini, banyak manusia yang enggan, marah, dan tak suka bila dipanggil dan dikaitkan dengan makhluk yang satu ini.

Bukan tanpa alasan, panggilan ini mendunia sebagai sesuatu yang menyeramkan. Sebagian besar para mufassir memang sejak dari dulu mengartikan iblis sebagai makhluk terlaknat. Namun, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun ini memandang “nama” iblis dalam sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, iblis merupakan makhluk yang taat pada Allah. Dengan ketaatannya tersebut, iblis tidak melawan Tuhan dengan mengelak menjadi makhluk bernama iblis. Ia, justru menerima takdirnya sebagai makhluk Tuhan yang disetting menyelinap ke syurga dan kemudian menggoda Adam—yang bahkan rela menerima hujatan manusia sepanjang zaman.

“Iblis itu adalah Azazil. Dia adalah malaikat paling sepuh (tua). Seniornya Jibril dan seterusnya. Sehingga peran dia sebagai iblis itu adalah sebuah karakter yang diset-up oleh Allah. Karena iblis sendiri dan siapapun tidak mungkin melakukan perlawanan kepada Allah.” Ujar Cak Nun pada akun Youtube milik Mocopat Syafaat.

Lebih jauh, Cak Nun mengungkapkan bahwa, Tuhan menciptakan sesuatu dalam empat kelas atau tingkatan. Pertama kelasnya makhluk, kedua kelas insan, ketiga kelas abdullah, dan keempat kelas khalifatullah fil ardh.

Makhluk, yakni bila kita diciptakan menjadi monyet, anjing, hewan, tumbuhan, manusia, dan sebagainya berdasarkan ketentuan Allah dengan sekaligus karakter masing-masingnya. Kadal tidak bisa melawan dan ingin mengubah dirinya menjadi manusia. Setan atau iblis tidak bisa melawan dan mengubah dirinya menjadi malaikat, dan sebagainya.

Sebagai makhluk, ia belum punya kesadaran. Sehingga, untuk menjadikannya kesadaran Allah kemudian menjadikannya insan (tahap kedua). Yakni, dengan dibekali akal dan hati. Ketika ia mampu menyadari posisinya sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati, dan kemudian menggunakannya sebaik mungkin untuk mengabdi pada-Nya, itulah yang dinamakan abdullah (tahap ketiga).

Tahap terakhir, adalah saat ia sadar bahwa dirinya merupakan utusan Allah yang diturunkan ke dunia ini untuk menjaga alam seisinya. Inilah yang dinamakan khalifatullah.

Orang yang belum menggunakan akal dan hatinya berarti tidak bisa dinamakan sebagai insan, abdullah, apalagi khalifah. Ia hanya berada di kelas makhluk—yang sama dengan kelas monyet dan hewan lainnya.

Maka, ketika prajurit Musa ngeyel dengan ketentuan Allah, Dia pun berfirman menunjukkan kuasa-Nya, “Jadilah kamu sebagai kera yang hina”.

“Apa ada setan yang mau jadi setan? Apa ada makhluk yang mau jadi setan atau iblis? Apa ada makhluk yang mau dihiana, dihujat, dibenci sepanjang masa? Ia menjadi makhluk bernama iblis untuk menjadi katalistaor bagi hidupnya manusia. Untuk membedakan mana yang taat pada Allah dan mana yang ingkar pada Allah,” lanjutnya.

Cak Nun menambahkan, iblis masuk ke syurga menggoda Adam, tidak akan terjadi tanpa izin dan kehendak Allah. “Hebat mana yang punya iblis dengan iblis, sampai bisa menyelinap ke syurga dan menggoda Adam?”

“Inii jailun filardhi khalifah. Allah menciptakan manusia di bumi. Lah kenapa ada di syurga? Supaya Adam menjadi khalifah di bumi, maka iblis dijadikan sebagai katalistaor agar Adam melanggar aturan dan kemudian turun ke bumi untuk menunaikan tugasnya itu.” Katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *