Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 08 August 2018

Elit Politik Memainkan Isu SARA


ilustrasi-kampanye

islamindonesia.id – Elit Politik Memainkan Isu SARA

 

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syarif Hidayat mengatakan, politisasi SARA dan Identitas sebenarnya tidak terjadi di masyarakat akar rumput. Menurut dia, politisasi isu SARA dimainkan oleh elit politik sehingga melibatkan masyarakat.

Pemaparan Survei pemetaan kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan menjelang Pemilu 2019 yang dilakukan terhadap 145 responden ahli politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan di 11 Provinsi, di Hotel JS Luwansa, Selasa (7/8) menunjukkan bahwa isu SARA dan identitas tidak berasal dari  akar rumput hal itu terlihat dari angka penyebaran berita hoax sebesar 92.4 persen, ujaran kebencian 90.4 persen, radikalisme 84.2 persen, kesenjangan sosial 75.2 persen, perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain sebesar 71.1 persen. Sedangkan aspek religiusitas sebesar 67.6 persen dan ketidakpercayaan antar kelompok, suku, agama, dan ras juga 67.6 persen.

Isu SARA dan Identitas yang dimainkan oleh Elit Politik itu menurut Kordinator Survei Tim LIPI, Esty Ekawati akan menghambat  Pemilu 2019.  Dalam bidang politik, 23.6 persen responden mengatakan politisasi isu SARA dan identitas berpotensi besar menghambat Pemilu 2019. Lalu, 23.1 persen responden mengatakan Isu SARA dan Identitas berpotensi besar menghambat konsolidasi demokrasi menjelang Pemilu 2019.

Masih di bidang politik, faktor terbesar kedua penghambat Pemilu 2019 adalah konflik horizontal antarpendukung pasangan calon sebesar 12.3 persen, gangguan keamanan 10.4 persen, kekurangsigapan penyelenggara 6.6 persen, serta ketidaknetralan penyelenggara pemilu sebesar 5.7 persen.

Di bidang ekonomi, faktor yang berpotensi menghambat konsolidasi ekonomi; 20 persen ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi, 14 persen krisis ekonomi, kondisi ekonomi buruk, ketidakstabilan ekonomi, kemiskinan, 10 persen monopoli, oligopli, dan kartelisasi, 8 persen inflasi, intervensi kepentingan bisnis terhadap politik.

Selanjutnya, 40 persen responden mengatakan isu SARA dan identitas menghambat bidang sosial dan budaya menjelang Pemilu 2019 dan 30 persen mengatakan isu SARA dan Identitas menghambat konsolidasi demokrasi.

Namun, dalam bidang pertahanan keamanan, isu SARA dan Identitas tidak berperan penting yang mengancam keamanan hanya sebesar 8.8 persen. Potensi terbesar yang mengancam keamanaan sehingga menghambat Pemilu 2019 adalah konflik sosial 25.3 persen dan kinerja buruk parpol sebesar 16.5 persen.

Esty mengatakan di bidang politik isu SARA sebagai faktor paling besar karena menggambarkan kondisi politik dalam konteks hambatan pemilu saja. Jadi, lebih pada adil atau tidaknya penyelenggara pemilu.

Sedangkan pertahanan dan keamanan lebih menggambarkan soal kondisi yang mengancam keamanan masyarakat. Jadi, dari hal itu yang tertinggi justru politisasi aktor keamanan.

 

Lj/islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *