Satu Islam Untuk Semua

Friday, 10 July 2015

Dua Pilot Indonesia Pro-ISIS, Kata Intelijen Australia


wpid-img-20150710-wa0001.jpg

Dua orang pilot Indonesia terpapar radikalisme di dunia maya dan salah seorang di antaranya kemungkinan bergabung ke kelompok militan Islamic States atau ISIS di Suriah, kata dokumen intelijen Polisi Federal Australia. 

Isi dokumen, pertama kali dipublikasikan The Intercept, Rabu, menujukkan adanya permintaan dari Canberra pada mitranya di Turki, Jordan, London, Amerika Serikat dan Europol, biro polisi Uni Eropa, agar mereka pasang mata pada dua pilot Indonesia: Ridwan Agustin dan Tommy Hendratno. 

Media tak menyebutkan bagaimana mereka mendapatkan dokumen itu dan sejauh mana keotentikannya. 

Polisi Australia menolak berkomentar soal terkait intelijen, kata laporan. 

Tertanggal 18 Maret 2015, dokumen memuat rangkuman hasil penyelidikan Canberra atas isi akun sosial media — termasuk Facebook, Flikr dan Instagram — kedua pilot, keluarga dan jejaring pertemanan mereka yang luas di Internet. 

Dokumen menggambarkan Ridwan sebagai pilot maskapai AirAsia sementara Tommy disebutkan sebagai eks pilot Tentara Nasional Indonesia yang banting stir jadi pilot swasta di maskapai Premieair dan sempat menikmati pendidikan pilot lanjutan di Amerika Serikat. 

Laporan The Intercept memuat penjelasan perwakilan maskapai yang intinya, kedua pilot itu tak lagi tercatat bekerja di perusahaan mereka. 

Menurut dokumen, sebelum September 2014, profil Facebook Ridwan menunjukkan dia, laiknya pilot lainnya, punya antusiasme terhadap dunia penerbangan. Dia disebutkan kerap majang foto diri di depan pesawat, di samping mesin pesawat, di landasan pacu, bersama kru pesawat, di dalam kokpit dan dalam berbagai pose lainnya, katanya. 

Terkadang dia juga memajang foto bersama istri, seorang eks pramugari Air Asia, dan anak-anaknya, kata dokumen. 

Ridwan, masih menurut dokumen, juga memajang foto pelatihannya sebagai pilot, termasuk sebuah foto yang mengabadikan perjalanan ke markas Airbus di Toulouse, Prancis, bersama tim AirAsia pada 2009. 

Menurut dokumen, Ridwan jebolan Akademi AirAsia pada Januari 2010. Dia merupakan pilot penerbangan rute internasional ke Hong Kong dan Singapura, serta rute domestik, kata media. 

Pada September 2014, isi facebook Ridwan drastis berubah, kata dokumen seiring terpajangnya beberapa posting yang isinya mendukung Negara Islam. Dia juga mulai berteman dan berinteraksi secara online dengan akun pro-ISIS, termasuk pentolam militan Indonesia yang jadi kombatan di Suriah atau Irak, katanya. 

Senyampang itu, lanjut dokumen, Ridwan juga mulai merubah namanya di Facebook menjadi “Ridwan Ahmad Indonesiy” dan menyatakan minatnya untuk bisa ikut berperang bersama ISIS di Kobani, kawasan perbatasan Turki dan Suriah. 

Pada medio Maret 2015, posting Ridwan di Facebook menunjukkan lokasinya sedang berada di Raqqa, jantung pertahanan ISIS di Suriah, kata intelijen Australia. 

Tak ada penjelasan lanjutan dalam dokumen bagaimana Canberra memverifikasi isi posting itu. 

Pada 17 Maret, Facebook membekukan akun Facebook Ridwan, kata dokumen. 

Intelijen Polisi Australia mengklaim, sebelum pembekuan, mereka telah pasang mata atas isi akun Ridwan. Dari penyelidikan lanjutan, mereka lalu mendapati adanya kedekatan khusus antara Ridwan dan Tommy Hendratno. 

Dokumen tak menjelaskan sejak kapan Ridwan dan Tommy masuk dalam pantuan radar intelijen Australia. Pun tak ada penjelasan kenapa Canberra menaruh perhatian pada dua sosok warga Indonesia ini, di tengah fakta ada tak terhitung akun Facebook Indonesia yang berisi dukungan dan puja-puji pada ISIS. Di luar itu, tak tercantum pula penjelasan bagaimana mereka memverifikasi bahwa posting di Facebook itu memang bersumber dari kedua pilot.
Laporan sebatas menyebut keduanya punya potensi sebagai “ancaman keamanan”. 

“Pilot, awak udara dan lainnya dengan akses ke dalam lingkungan penerbangan dapat menimbulkan ancaman jika orang-orang ini menjadi radikal. Akses mereka dan pengetahuan keamanan dan keselamatan membuka kemampuan untuk mencoba serangan seperti yang terlihay dalam peristiwa-peristiwa global masa lalu,” kata laporan, seraya menyitir edisi terbaru Inspire, majalah terbitan Al-Qaeda di Semenanjung Arab, yang mendorong serangan atas dunia aviasi. 

Laporan The Intercept tak mencantumkan keterangan adakah Canberra membagi hasil penyelidikan mereka ke polisi di Jakarta. 

Zainab/Islam Indonesia. Sumber berita dan foto: The Intercept

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *