Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 20 May 2017

Din Syamsuddin Apresiasi Aliansi Strategis Rusia – Dunia Islam


Din Syamsuddin Siapa yang Sebenarnya Intoleran dan Anti Kebinekaan

Islamindonesia.id – Din Syamsuddin Apresiasi Aliansi Strategis Rusia – Dunia Islam

 

Tokoh senior Muhammadiyah Din Syamsuddin menyayangkan dunia barat masih melihat Islam sebagai ancaman dibanding mitra strategis untuk kemajuan bersama. Di sisi lain, Din mengapresiasi adanya aliansi strategis Rusia-Dunia Islam menjadi solusi positif.

“Walaupun tidak ada makan siang gratis, Rusia dapat mengedepankan pendekatan kemitraan ramah Islam, yang tentu saling menguntungkan,” kata Din seperti dilansir Tempo.co, 19 Mei.

Bagi Jebolan Pondok Modern Gontor ini, aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat menjadi model kemitraan dan kerja sama yang positif untuk membangun peradaban dunia baru yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban. “Aliansi strategis Russia-Dunia Islam merupakan alternatif positif,” katanya.

Din menjelaskan, Rusia dapat mengedepankan pendekatan kemitraan ramah Islam yang saling menguntungkan. Rusia memerlukan dunia Islam, terutama untuk mendukung bidang politik dan kerja sama ekonomi. Sedangkan dunia Islam pun dapat memanfaatkan kekuatan Rusia, yang masih menyisakan keunggulan ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi.

Din telah menjadi anggota aliansi tersebut sejak 2007. Menurut dia, jika aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, hal itu akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera.

Menurut Din, setelah perang dingin, dunia mengalami ketakpastian. Kedua tesis The End of History Fukuyama dan The Clash of Civilization Huntington memang terjadi.
Namun mendorong konvergensi. Sayangnya, konvergensi tersebut tidak berwajah positif terhadap dunia Islam sebagai pilar penting peradaban dunia. “Yang terjadi justru ‘permusuhan’ terhadap Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti adanya proxy war antara sesama negara Islam,” ujarnya.

Din menilai globalisasi, yang semula dimaksudkan untuk menciptakan keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain. Itu ditandai dengan kebangkitan Asia Timur. Akibatnya, negara-negara barat merasa terkalahkan sehingga membangkitkan ultra-nasionalisme, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara barat.

 

YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *