Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 26 July 2016

‘Di Washington, Muslim Indonesia Dikenal Ramah’


imaam_center2

IslamIndonesia.id – Di Washington, Muslim Indonesia Itu Ramah’

Di tengah-tengah menikmati mudik lebaran, Arif, pria yang berdomisili selama kurang lebih 16 tahun di Washington, Amerika Serikat, berbagi pengalaman di acara Mocopat Syafaat, di Bantul (17/7). Hadir bersama wartawan ‘Voice of America’ asal Pacitan, Arif bercerita sejauh pengamatannnya tentang orang-orang Amerika memandang Islam Indonesia. Baik sebelum Obama terpilih sebagai presiden maupun setelahnya, termasuk pasca-tragedi 11 Sepetember.

Sebelum Indonesia dikenal luas di AS, khususnya sebelum periode Obama, “begitu bicara Islam, mengerucut pada Timur Tengah,” kata Arif di depan hadirin yang memadati lokasi acara yang juga dihadiri budayawan kondang Emha ‘Cak Nun’ Ainun Nadjib.

Keadaan berbeda setelah Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini semakin dikenal luas oleh masyarakat AS pasca terpilihnya Obama yang pernah tinggal semasa kecil di Indonesia. Pemahaman mereka tentang Islam semakin luas dan menjauh dari konotasi negatif yang selama ini didapatkan dari media ‘mainstream’.

“Kalau diketahui Muslim Indonesia, kita itu (dipandang) berbeda.”

Pria yang pernah lama bekerja di bidang informasi teknologi ini lalu menceritkan pengalamannya setiap pertama kali berkenalan dengan orang AS. Islam Indonesia, katanya, dianggap ramah, murah senyum, dan toleran. Opini umum yang sejauh ini dilihat oleh Arif, salah satunya karena mereka mendapatkan berita langsung dari turis yang pernah berkunjung ke Indonesia.

“Jika mereka pulang, selalu menceritakan apa yang mereka alami.”

Bersadarkan fakta ini, sebetulnya bagi Arif setiap orang – dengan interaksi yang berakhlak dan berbudaya – bisa menjalankan diplomasi dengan para turis yang ada, misalnya, di Yogyakarta. Sedemikian sehingga pandangan tentang Islam Indonesia begitu khas dan berbeda dengan Islam yang digambarkan media-media di Amerika Serikat.

Setelah memberikan gambaran tentang masjid-masjid yang ada di AS, khususnya di Washington, Arif menceritakan opini Muslim Amerika ketika masuk ke masjid Islam Indonesia. Di sejumlah masjid, ‘jama’ah luar’ umumnya harus mengikuti warna fikih jama’ah setempat. Namun di masjid Indonesia, keragaman dalam menjalankan fikih, dijaga dengan baik.

“Auranya berbeda dengan masjid-masjid yang didominasi oleh sejumlah sekte atau komunitas dari negara lain,” katanya mengutip komentar orang-orang AS yang sempat berkunjung ke masjid yang dibangun dengan dana hibah pemerintah Indonesia itu.

Kebhinekaan yang mewarnai masjid Islam Indonesia, katanya, juga didukung oleh penegakan hukum di AS. Sejauh yang Arif alami, setiap orang di AS yang menjalankan syariat agamanya dilindungi oleh undang-undang.

“Kalau saya mengatakan agama saya (menyembah) api, ya dilindungi,” katanya sambil menggambarkan jika di AS, agama dan aliran kepercayaan tidak dibatasi jumlahnya seperti yang hanya diakui negara di Indonesia.

Di AS, setiap agama dengan segala keragaman sekte atau mazhabnya memiliki ruang untuk eksis dengan syarat tidak boleh melanggar aturan. “Tidak ada ceritanya Syiah konflik dengan Sunni. Begitu konfilk, bukan agamanya yang dituntut, tapi yang telah menggangu hak orang atau kelompok lain menjalankan ibadah menurut keyakinannya.”

YS/IslamIndonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *