Satu Islam Untuk Semua

Friday, 02 October 2015

Di Paris, Lagu ‘Tombo Ati’ Mengalun di Markas Unesco


0603289yen1780x390

Tembang klasik mesjid di Jawa yang populer disebut “Tombo Ati”, untuk pertama kalinya bergema di gedung Unesco, lembaga kebudayaan PBB, di Paris, Perancis, kemarin. Pelantunnya Yenni Wahid, politisi, tokoh perempuan Nahdhatul Ulama.

Yenny, menurut Antara, memperdengakan lagu ciptaan Sunan Bonang pada abad XVI itu dalam sebuah sesi konferensi internasional bertajuk “Spritual Islam dan Tantangan Terkini”.

Ikut hadir dalam konferensi adalah mufti agung Bosnia, guru besar Mesir, Syeikha dari Turki, Imam masjid besar Eropa, ahli Islam dari Tunisia, Aljazair, Maroko dan ratusan peserta dari berbagai negara.

“Saya datang ke Paris diundang Syekh Bentounnes, mursyid atau pimpinan Tarekat Alawiyyah, sosok yang sangat karismatik dan mempunyai pengikut puluhan ribu di Aljazair maupun negara-negara Arab dan Eropa,” kata Yenny.

Konferensi yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Tarekat Alawi ini didakan oleh UNESCO bekerjasama dengan Association Internationale Soufie Alawiyya (ASIA). Hingga kini, tarekat Alawi merupakan salah satu tarekat terbesar di Aljazair dan Eropa.

Mewakili Muslimah dari Indonesia, Yenny berpartisipasi dalam sesi acara spiritual dan kontemplasi. Dalam sesi itu, Yenny menyanyikan ‘Tombo Ati’ yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.

“Alhamdulillah penerimaannya luar biasa. Banyak ibu-ibu tua memeluk saya setalah acara dan bapak-bapak menjabat tangan mengucapkan terimakasih karena walaupun tidak mengerti bahasanya, mereka merasa tembang itu sangat menyentuh hati mereka,” katanya.

Tombo Ati yang bermakna ‘obat hati’  ini dilantunkan di konfrensi tasawuf  karena memiliki makna sufistik yang dalam di setiap liriknya, kata Yenny. Tujuannya: selain mengajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan, nada Tombo Ati juga senantiasa memikat hati dan  nyaman di telinga.

Meskipun dasarnya hanya tujuh lirik dengan bahasa Jawa, Tombo Ati tidak pernah tenggelam oleh masa. Terlebih lagi, musisi seperti Opik sempat mengaransmen dengan arti liriknya dalam bahasa Indonesia. Hasilnya, pada 2005 album Tombo Ati ‘meledak’ dalam industri musik Indonesia. Di akar rumput, budayawan Emha “Cak Nun” Ainun Najib tidak jarang mengkaji kandungan maknanya bersama masyarakat pedesaan. Bersama group musik Kiai Kanjeng, Cak Nun tidak hanya mempopulerkan dengan bahasa Jawa, tapi juga menyanyikannya dalam bahasa daerah lainnya seperti Sunda dan Melayu.

Edy/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *