Satu Islam Untuk Semua

Friday, 22 May 2015

Di Cirebon, Ulama Kharismatik  Yaman Tekankan Persatuan dan Dakwah Inklusif


IMG_0872

Ulama di Indonesia perlu melangkah di jalan dakwah yang mempersatukan dan menghimpun, bersifat inklusif dan “tidak merasa benar sendiri”, kata seorang ulama panutan asal Yaman, meresepkan perbaikan akhlak umat sekaligus menjaga keutuhan bangsa.

“Semua umat Islam mempercayai satu Tuhan yang sama, Nabi yang sama, berkiblat ke Ka’bah yang sama dan berpegang pada Al-Qur’an yang sama,” kata ulama cum pemikir Islam kontemporer asal Yaman, Al-Habib Abubakar Adny bin Ali Al-Masyhur, saat menjadi pembicara tinggal dal sebuah seminar di Cirebon, Jawa Barat, kemarin. “Dan semua itu merupakan titik temu sekaligus modal persatuan umat dan bangsa,” katanya menegaskan.

Dalam seminar bertajuk “Memperkokoh NKRI dalam Bingkai Islam Ahlus Sunnah Waljamaah dalam Menata Kehidupan Umat yang Lebih Bermartabat” itu, Habib Abubakar menekankan pentingnya perkumpulan Islam untuk membenahi apa yang dia gambarkan sebagai ‘tarbiyah akhlak’ dan ‘suluk umat’. 

“Pekerjaan dakwah merupakan tugas agung dan penuh manfaat,” katanya. “Sebab perkataan yang paling baik diucapkan adalah menyeru manusia kepada Allah.” 

Menurutnya tantangan dakwah saat ini berbeda dengan zaman dulu, utamanya dalam soal banyaknya khilaf dan perselisihan. Dia mengajak umat tetap bersatu dalam perbedaan pendapat dan pemikiran. “Jalan keluar dari perselisihan adalah berkumpul dalam tali agama Allah dan jangan berpecah belah,” katanya.

Pernah menjadi guru bagi banyak mubaligh di Indonesia, ulama yang dikenal peduli dengan fiqih tahawwulat (fiqih perubahan zaman) itu menyerukan agar ulama di Indonesia menempuh jalan dakwah yang teduh dan merangkul semua kalangan Muslimin, tak peduli mazhab dan kecenderungannya. 

Dalam kaitannya dengan konflik di Yaman saat ini, Habib Abubakar menggambarkannya sebagai “keributan yang bersifat politik”, tidak ada hubungannya dengan urusan mazhab atau agama. 

Di Yaman, kalangan Sunni dan Syiah hidup berdampingan dan bahkan di antara mereka telah terjadi kawin-mawin sejak ratusan tahun lamanya, katanya. “Orang yang menyatakan bahwa konflik yang terjadi di Yaman itu bersifat mazhab atau agama barangkali memang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

Abdul Majid Muslim, kandidat  doktor dari Universitas Al-Ahgaff, Yaman, menyebutkan bahwa Al-Habib Abubakar adalah ulama terkemuka di kota Aden  yang telah menelurkan banyak karya ilmiah di bidang fiqih kontemporer. Beliau juga memiliki pesantren yang memiliki ratusan murid dari seantero dunia. “Beliau ulama besar dan pemikir terkemuka di Aden, Yaman, memiliki 40 pesatren da  sebuah markas dan jamiah yang besar. Karya terkenalnya adalah fiqih Tahawwulat yang membahas tentang fitnah akhir zaman,” jelas Abdul Majid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *