Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 19 May 2015

Derita Rohingya; Pejabat ‘Siap Membantu tapi Tak Sudi Menampung’


IMG_1076.PNG

Sejak 10 Mei 2015, lebih dari 1.400 pencari suaka yang sebagian besar adalah etnis Rohingya tiba di Indonesia. Selain yang berhasil diselamatkan, TNI AL melihat kapal pengungsi lainnya namun kapal itu kembali meninggalkan perairan Indonesia. Menurut laporan BBC, para pengungsi yang diselamatkan oleh nelayan di perairan Aceh, menyatakan mereka berasal dari kapal yang sempat dihalau oleh Angkatan Laut Malaysia dan Indonesia beberapa hari sebelumnya. 

Aktivis imigrasi internasional dari berbagai organisasi memprediksi masih ada 8.000 orang di laut saat ini disebabkan adanya negara yang masih tidak mau menerima mereka. Malaysia misalnya, menolak pengungsi Rohingya antara lain karena jumlahnya yang terlalu banyak selain asal mereka yang terlalu dekat dengan negaranya.

Dalam wawancara dengan Themalaymailonline.com pada 18 Mei, Dr. Oh Ei Sun dari Nanyang Technological University Singapura mengatakan, “Memang yang menjadi ketakutan mendasar adalah jumlah mereka yang besar. Jika hanya sedikit dari mereka yang datang, negara-negara tetangga akan lebih bersedia untuk menerima mereka baik sebagai pengungsi atau penduduk tetap”

Meskipun sebagian pengungsi telah tertolong di daratan Aceh dengan makanan dan obat-obatan, namun Indonesia belum mau menerima mereka sebagai pencari suaka. Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan tugas militer untuk melindungi wilayah Indonesia. Kapal yang memasukinya akan diminta untuk berbalik dan meninggalkan perairan Indonesia. Menurut laporan ABC, TNI AL telah melakukan ini setidaknya sekali seminggu ini. Jika ada perahu atau kapal yang terlihat dalam kesulitan, akan disediakan dengan makanan, bahan bakar, air dan beberapa peralatan medis sebelum dikawal pergi meninggalkan perairan Indonesia

“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib dibantu. Kalau ada sulit air atau makanan kami bantu, karena ini terkait human. Tapi kalau mereka masuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” ucap Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jumat (15/5/2015) yang dikutip Kompas.com

TheGuardian.com melaporkan, pada tanggal 10 Mei, ada 575 pengungsi berhasil diselamatkan di perairan Aceh, Indonesia. Keesokan harinya, 1.018 pengungsi ditemukan di selat Malaka tidak jauh dari perbatasan Malaysia dan Thailand. Pada hari yang sama, sebuah kapal berisi 400 pengungsi ditahan oleh kapal TNI AL yang memasuki wilayah perairan Aceh. Pada hari selasa 12 Mei, otoritas Bangladesh menangkap kapal pukat yang membawa 116 orang di sekitar perairan Rakhine State. Keesokan harinya, sebuah kapal dengan 500 pengungsi beralih dari pulau Penang. Pada hari yang sama, sebuah kapal beralih dari pulau Langkawi, selat Malaka dengan 300 pengungsi. Kamis 14 Mei, sebuah kapal membawa 300 pengungsi meninggalkan Thailand setelah menerima makanan, air dan bantuan mekanik. Dan pada hari Jum’at 15 Mei, nelayan berhasil menyelamatkan 700 pengungsi di perairan Aceh. Di hari yang sama, lagi-lagi nelayan menyelamatkan 200 pengungsi yang akhirnya dibantu oleh TNI AL.

Sekjen PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), Ban Ki-Moon memperingatkan adanya “bencana kemanusiaan” secara besar-besaran berkaitan dengan lebih dari 8000 pengungsi yang diyakini terlantar di laut karena perlakuan diskriminasi dan kekerasan sektarian di Myanmar. Sebagian besar dari mereka adalah Muslim Rohingya, yang jumlahnya minoritas di Burma dan tidak diakuai kewarganegaraanya oleh Myanmar. Badan pengungsi PBB dan aktivis HAM mengatakan kemungkinan besar ribuan pria, wanita dan anak-anak yang terlantar di Laut Andaman dan Selat Malaka itu mengalami kelaparan dan terserang penyakit setelah gagal memasuki wilayah Thailand yang cukup keras dalam persoalan human trafficking. Kepada negara-negara yang menolak kehadiran pengungsi korban kekerasan di Burma, Ban meminta untuk mengedepankan kewajiban penyelamatan dan tidak mengusir mereka.

Wakil Direktur Divisi Asia Human Rights Watch, Phil Robertson, memprihatinkan krisis kemanusiaan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. “Setiap kapal yang datang ke pantai, penuh dengan orang yang telah tidak memiliki makanan dan air minum sebagai masalah utama dalam kesehatan,” katanya kepada ABC.

Menanggapi sorotan dunia terhadap prilaku isu diskriminasi dan kekerasan Muslim Rohingya, Wakil Menteri Luar Negeri Myanmar Thant Kyaw mengatakan, pemerintahnya belum membahas tentang pengungsi dari Bangladesh dan Etnis Arakan di Myanmar, yang dikaitakan dengan Rohingya. Thant juga mempertanyakan identitas pengungsi yang dikatakan lari dari Myanmar itu. Menurutnya, jika para pengungsi itu bisa membuktikan identitasnya sebagai warga Myanmar, kepala pemerintahan Thein Sein akan mempertimbangkannya.

Edy/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *