Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 01 March 2015

Dari Aceh hingga Makassar, Beragam Tradisi Unik Maulid Nabi


Panjang Mulud Banten, Serang

Bulan Rabiul Awal telah berlalu, namun semangat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw tak pernah redup. Berbagai tradisi digelar melibatkan masyarakat yang ingin turut serta mengungkapkan rasa syukur dan bahagia atas kelahiran manusia suci, sang rahmat bagi alam semesta. 

Di hampir setiap daerah, tradisi maulid berlansung turun temurun sejak ratusan tahun silam. Dari Sumatera hingga Sulawesi, ada saja ragam peringatan maulid, mulai dari pembacaan riwayat hidup Nabi, kirab hingga aneka atraksi. Namun beberapadi antaranya terbilang unik dan kerap jadi ajang hiburan orang banyak:

1. Zikir Berdiri dan Melompat Aceh.


Tradisi doa dan zikir sambil duduk, berdiri serta melompat, jadi pemandanan khas maulid di Panton Ree, Kabupaten Aceh Barat, Nangroe Aceh Darussalam. Masyarakat mengekspresikan kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara berbeda. Acara ditutup dengan menyajikan idang meulapeh, yakni hidangan dengan berbagai menu.

2.Panjang Mulud, Banten


Masyarakat Serang, Banten memeriahkan maulid dengan Sedekah Mulud, mengumpulkan berbagai bahan makanan dan dilanjutkan dengan mengarak gunungan (panjang). Arak-arakan ini disebut Panjang Mulud. Makanan yang sudah dikumpulkan kemudian dibagikan ke warga yang memerlukannya.

3. Panjang Jimat, Cirebon


Di sekitar Kasepuhan dan kompleks makam Syarief Hidayatullah, Cirebon, dikenal tradisi Panjang Jimat. Panjang artinya lestari dan jimat bermakna pusaka atau warisan Nabi Muhammad saw yakni al-Quran dan sunnahnya.

Ritual Panjang Jimat puncaknya pada malam 12 Rabiul Awal dengan mengarak berbagai benda yang dipercaya punya makna filosofis, seperti nasi tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan bertahta. Semuanya diarak menuju masjid atau mushala keraton.

4. Grebeg Maulud, Yogyakarta


Masyarakat Jawa amat akrab dengan tradisi grebeg maulud, yaitu suatu acara arak-arakan gunungan makanan menuju Keraton Yogya. Difasilitasi pemerintah kota, iring-iringan itumenampilkan prajurit keraton Yogyakarta dalam pakaian dan formasi lengkap. 

5. Bola Api, Jawa Timur


Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur punya tradisi unik menyambut maulid. Sebagian warga berkeliling kampung sambil menampilkan atraksi ‘Bola Api’.  Dalam atraksi ini warga layaknya pemain sepakbola, membawa, menyundul dan menendang bola api. Bola yang mereka gunakan terbuat dari rotan yang lalu dibakar.  Atraksi ini biasanya diiringi tabuhan rebana.

6. Baayun Maulud, Banjarmasin, Kalimantan Selatan


Masyarakat Banjarmasin sejak dini memperkenalkan Nabi Muhammad Saw. pada anak mereka dengan kegiatan “baayun maulud”. Baayun artinya buaian bayi. Saat 12 Rabiul Awal masyarakat berkumpul dan mengayunkan buaian bayi sambil melantunkan syair tentang Nabi Muhammad saw. 

7. Maudu Lompoa, Sulawesi Selatan


Atraksi budaya iringan masyarakat berpakaian hias sambil membawa anyaman dan ‘julung-julung’ (replika perahu) memeriahkan bulan Rabiul Awal. Acara ini disebut maudu lompoa.

Julung-julung yang sudah dihiasi telur, ayam, beras ketan, mukena, kain khas Sulawesi serta aksesoris lainnya, selanjutnya diperebutkan oleh warga.

 

(SB/ Islam Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *