Satu Islam Untuk Semua

Monday, 17 March 2014

Dakwah Sejuk Jamaah Kompor (2): Kami dan Keluarga Dijamin Allah


foto:muhajier718.blogspot.com

Mereka rela pergi ke manapun demi dakwah kendati harus meninggalkan anak dan istri

SENJA baru saja mengunjungi kawasan Depok. Di Masjid Al Hidayah, Cimanggis beberapa anak  muda bergaya teluk Benggala tengah sibuk menyiapkan makan malam. Sebagian dari mereka terlihat ngobrol dengan penduduk setempat, sebagian lagi sibuk dengan mengaji Al Qur’an. “Ini hari ketiga kami khuruj di sini,”ujar Andi (23), salah seorang dari mereka.  

Tidak semua anggota Jamaah Tabligh berkonsetrasi penuh pada kegiataan jamaah. Ada sebagian dari mereka yang memiliki aktivitas tetap sebagai orang kantoran. Untuk anggota JT yang seperti ini, khuruj biasanya dimulai pada Jumat sore dan berakhir hingga Senin pagi sebelum masuk waktu jam kerja. Praktis cara seperti itu memudahkan mereka untuk tetap melakukan aktvitas pribadinya. 

Kawasan operasi dakwah anggota JT tidak semata-mata di dalam kota atau luar kota. Tak jarang mereka pun melakukan khuruj jauh ke luar pulau, bahkan sampai ke luar negeri. Itu memang dianjurkan. Lebih bagus lagi jika anggota JT,  bisa khuruj ke pusat-pusat  gerakan mereka  di India-Pakistan-Bangladesh.  Diharapkan dengan melihat langsung aktivitas JT di pusat-pusatnya, itu akan menambah semangat dan keimanan anggota JT tersebut.

Syukri adalah salah seorang anggota JT yang pernah melanglangbuana hingga ke India. Dengan berbekal sumbangan dari kawan-kawan sejamaah plus kocek pribadi, dia sempat selama 40 hari berdakwah di negeri Taj Mahal tersebut. Lantas bagaimana dengan anak istri yang ditinggalnya? Sambil tersenyum, lelaki berpenampilan riang ini menjawab,”Kami berserah diri kepada Allah. Insha Allah, ada Dia yang menjamin kebutuhan keluarga kami,”katanya. 

Soal” jaminan Allah” ini, sering membuat orang di luar JT sinis. Salah satunya dari Farhan (bukan nama sebenarnya), salah seorang anggota masyarakat yang dikenal aktiv di sebuah lembaga keagamaan bernuansa politik. Menurut Farhan, kepercayaan anggota JT terhadap pengertian “jaminan Allah” itu bersifat fatalistik. Ia, katanya, sering menyaksikan dan mendengar banyak orang yang aktiv khuruj di JT, pada keseharian, keluarganya nyaris terbengkalai. “Dakwah tentu saja perlu, tapi meninggalkan keluarga tanpa bekal ekonomi yang memadai itu juga tidak bagus,”ujarnya.

Tapi benarkah anggota JT tidak memberi jaminan ekonomi saat meninggalkan keluarganya? Tidak juga. Harun misalnya. Sebelum khuruj, dia sudah menyiapkan uang belanja selama satu bulan penuh untuk keluarganya. Bahkan jika ia lagi cekak, teman-temannya yang lebih mampu akan menyumbangkan ala kadarnya buat bekal dia dan keluarganya. “Yang memberi bukan hanya satu orang, kadang banyak sekali.Subhanallah,”ungkap lelaki yang sehari-har tak memiliki kerja tetap alias serabutan tersebut. Namun apapun yang terjadi, para anggota JT selalu berusaha untuk “menerima apapun” ketentuan dari Allah. Istilah mereka qona’ah.

Banyak hal yang mereka kerjakan ketika berkhuruj. Untuk mengisi waktu, biasanya mereka menjalankan taklim (membaca hadis atau kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), berkunjung ke rumah-rumah sekitar wilayah tempat mereka beroperasi dengan tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah, bayan, mudzakarah (menghafal) enam sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah.

Kegiatan lainnya adalah mereka pun sering menyelenggarakan malam ijtima (berkumpul). Ini kegiatan biasanya diselenggarakan di markas-markas regional/daerah. Malam ijtima diisi dengan bayan (ceramah agama) oleh para ulama atau tamu dari luar negeri yang sedang khuruj di tempat itu. Sekali dalam setahun,  digelar ijtima umum di markas nasional pusat, yang biasanya dihadiri oleh puluhan ribu umat Muslim dari seluruh pelosok daerah.(Bersambung) 

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *