Satu Islam Untuk Semua

Friday, 14 March 2014

Dakwah Sejuk Jamaah Kompor (1): Bermula dari India


foto:tigerling1.rssing.com

Mereka percaya nilai-nilai kebenaran akan lekang jika tak disampaikan secara langsung. Karena itu, mereka bergerak menyampaikannya dari rumah ke rumah.

 

PANGGIL saja namanya Syukri. Ia dikenal oleh kawan-kawannya sebagai  kontraktor  muda yang doyan dugem. Tak ada diskotik, pub dan cafe Jakarta dan sekitarnya yang ia lewatkan untuk dirambah. Di kalangan “aktivis dugem”, Syukri  sangat disukai. Selain pandai bergaul dan hangat, ia pun terkenal sebagai esmud yang tajir dan royal. Tak heran jika kawan-kawannya jumlahnya segudang.

Tapi itu dua tahun yang lalu. Syukri sekarang berubah drastis.Alih-alih hilir mudik ke kawasan dugem, yang ada sekarang ia sibuk berdakwah kemana-mana. Penampilan lelaki  35 tahun itu pun sudah berubah. Tidak lagi perlente dengan pakaian gaulnya  yang selalu berbau Kenzo atau Armani. Syukri kini memilih tampil di depan umum dengan memakai jubah dan sorban khas orang-orang Teluk Benggali atau Semenanjung Arab. Lengkap semerbak dengan wangi minyak kesturi yang menyengat.

“Ia kalau ketemu kita sekarang bawaannya nasehatiin aja, ngomongin agama, berbuat baik dan amal sholeh,”ujar Tama (bukan nama sebenarnya), salah satu kawan Syukri dalam aktivitas dugem dahulu.

Apa yang terjadi dengan Syukri? Rupanya ia sudah direkrut oleh Jamaah Tabligh. Itu nama sebuah kelompok keagamaan yang berasal dari anak benua India. Ciri khas kelompok ini selain dari cara berpakaiannya, juga dari cara berdakwahnya yang berpindah-pindah. Tidak hanya pindah dari kota ke kota bahkan dari negara yang satu ke negara yang lain, mereka lakukan juga. “Aktivitas itu kami bahkan sampai ke Afrika segala,”ungkap Syafril (37), lelaki yang beberapa bulan pernah mengikuti kegiatan JT di wilayah Cianjur.

JT didirikan pertamakali oleh Syaikh Muhamamd Ilyas Kandahlawi (seorang ulama sufi di Mewat, sebuah dataran tinggi Gangetic di India Utara) sekitar tahun 1920-an di Uttar Pradesh, India. Karena itu, tak aneh jika sebagian besar pengikut JT  berada di anak benua India (India, Pakistan, Bangladesh) dan pusat penyebarannya terdapat di Nizahamuddin,New Delhi, India. Dari anak benua India, JT lantas menyebar ke negara-negara Arab dan negeri-negeri Islam. Tercatat hingga kini, puluhan ribu anggota JT ada di Suriah, Libanon, Palestina, Mesir, Sudan, Iraq, Hijaz, Malaysia, Thailand, Indonesia, Australia dan bahkan sampai ke Eropa dan Amerika Utara termasuk di Amerika Serikat. Secara fisik, anggota JT dapat dikenali khalayak dengan melihat gaya berpakaian mereka yang cenderung sama yaitu lebih suka memakai afghani clothes, atau sebagian kecil sering memakai pakaian khas Arab.

Dasar dari gerakan JT sendiri adalah dakwah. Mereka sangat percaya bahwa di tengah krisis moral dan keimanan yang melanda umat Islam, menyampaikan dan mengingatkan kembali nilai-nilai Islam yang pernah disampaikan oleh Rasulullah (tabligh) merupakan cara yang paling baik untuk dilakukan. Syekh Ilyas berpendapat, tak ada jalan untuk memperbaiki kondisi umat yang telah begitu parah, kecuali kembali kepada ajaran Rasulullah SAW. Maka didibuatlah JT, sebagai media yang dipercaya anggotanya merupakan jalan Rasulullah untuk menyeru umat agar kembali ke jalan Allah.

Selama bermukim di suatu wilayah, para anggota JT yang tengah berkhuruj biasanya menjadikan salah satu masjid di wilayah tersebut sebagai basis kegiatannya. Jika tak ada aktivitas mendatangi rumah penduduk, mereka menghabiskan waktu dengan beribadah di masjid: mulai bangun di pagi buta  hingga sholat qiyamul lail di malam harinya. Setiap rombongan khuruj (halaqah) dipimpin oleh seorang amir (pimpinan halaqah). Masjid memang menjadi tempat yang penting dalam aktivitas khuruj. Selain sholat, membaca Al Qur’an, berdiskusi soal-soal agama, di sana pun para anggota JT menjalankan aktivitas hidupnya sehari-hari seperti makan-minum, tidur, mandi-cuci-kakus dan lain-lain. Karena itu, tak aneh jika saat berkhuruj ini mereka kerap mengikutsertakan kompor dan perangkat-perangkat untuk memasak. “Inilah mungkin yang menjadikan orang-orang kadang menjuluki kami sebagai jamaah kompor,”ujar Ichsan sambil tertawa. Ichsan adalah salah seorang anggota JT yang kerap melakukan khuruj di wilayah Depok. (Bersambung)

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *