Satu Islam Untuk Semua

Friday, 18 December 2015

CERPEN – Hadiah


IMG_2123

Oleh: Syahidah Bint al-Huda

Wanita itu melewatkan hari dengan penuh kecemasan, menunggu sesuatu yang dia sendiri tak tahu apa itu. Suami tercintanya pergi tak lama setelah pernikahan mereka. Dia sedang menunggu hadiah yang dijanjikan suaminya, sebelum suaminya itu menuju tidur abadi kematian; menuju dunia terang di langit sana. Hadiah suaminya, (apa pun itu) akan sangat berharga baginya. Itu akan menjadi tanda, simbol cinta, emosi dan harmoni yang pernah memenuhi hidup mereka bersama.

Itu hadiah yang unik; hadiah yang disiapkan seorang suami yang akan diberikan pada istrinya setelah kematiannya. Itu akan menjadi salah satu hadiah paling berharga yang pernah diberikan pada wanita itu. Dan dia sangat ingin tahu apa itu. Dia bertanya-tanya, apakah ada orang yang bisa mengatakan sesuatu padanya tentang hal itu. Suaminya pernah mengatakan soal hadiah itu kala dia tengah menjalani latihan militer untuk memperjuangkan hak-hak dan martabat kaumnya. Perjuangan untuk meraih kemenangan atau menikmati kesyahidan.

Suaminya tidak memberikan hadiah itu dan pergi begitu saja ke medan perang. Dia selalu menunggu suaminya kembali. Tapi kini suaminya tidak akan pernah kembali. Bagaimana dia bisa kembali? Mereka yang bersegera melawan musuh yang seperti setan tidak akan pulang.

Mereka yang pergi berjuang selalu mengharapkan kemenangan atau mati syahid. Mereka lebih menginginkan kematian  untuk menghancurkan musuh, atau mempersembahkan kehidupan yang bisa menyenangkan sesama. Ada banyak orang yang datang dan pergi…tapi dapatkah sebuah kehidupan yang dipenuhi kompromi dan kelemahan dianggap sebagai sebuah kehidupan nyata? Ini hanya soal kematian. Suaminya syahid dalam pertempuran al-Karamah (sebuah desa di Palestina yang diduduki). Dia gugur kala membela tanah airnya yang direbut Zionis. Mereka berdua bahkan belum merayakan setahun pernikahan saat suaminya pergi di hari-hari awal pernikahan mereka.

Suaminya yakin bahwa kehidupan berharga seseorang sudah selayaknya dikorbankan untuk sebuah tujuan mulia. Suaminya meninggalkan dirinya dan bergabung dengan pejuang di medan perang, sambil menjanjikan sebuah hadiah. Suaminya sering pergi dalam jangka waktu yang lama, tapi dia selalu mendapat kabar tentang perjuangannya. Dia berdoa kepada Allah untuk memberi suaminya kekuatan, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musuh brutal…Dia selalu sedang menunggu kedatangannya. Tapi sekarang dia tidak perlu lagi menunggu.

Suaminya syahid dalam pertempuran memperjuangkan martabat dan keadilan. Dia tidak akan pernah melupakan hadiah yang dijanjikan suaminya. Raut bercahaya suaminya terukir jauh di dalam hatinya. Kesyahidan membuat  wajah itu semakin bercahaya. Suaminya adalah cintanya, baik kala hidup atau mati. Suaminya adalah hidup dan mati untuknya. Dia bangga hidup bersama suaminya dan bahagia bisa bersamanya. Dia berhak cemas menunggu hadiah suaminya. Akhirnya, setelah menunggu seperti bertahun-tahun, meski sebenarnya hanya beberapa hari, hadiah itu dibawakan juga padanya.

Dia menatap hadiah itu seolah-olah dia sedang melihat siluet cahaya malaikat suaminya. Dia mengenang kembali bagaimana suaminya, pria impiannya, menjadi harapan dalam hidupnya. Suaminya pergi demi dirinya dan demi setiap istri yang tertindas, setiap anak yang tak bahagia, setiap pemuda yang hilang…Dia pergi untuk membebaskan negaranya, untuk istrinya dan untuk semua orang. Dia mengorbankan dirinya demi negara yang diserbu oleh imperialis dan orang asing. Suaminya layak menerima cintanya dan rasa hormat yang tinggi. Wanita itu akhirnya mendapatkan hadiahnya. Dia bahagia sekaligus sedih. Dia melihat hadiah itu sebagai balsem untuk hatinya yang terluka.

Apakah hadiah itu? Ternyata sebuah papan hijau yang di atasnya tertulis ayat al-Qur’an besar-besar.

“… Yang saat kemalangan menimpa mereka akan berkata: sesungguhnya kita dari Allah dan akan kembali kepada-Nya…” (Al-Baqarah, 2: 156)

Dia menggantung papan itu di dinding sedemikian rupa hingga dia bisa melihatnya setiap pagi, ketika dia membuka mata dan setiap malam ketika akan tidur. Dia berjanji pada Allah Yang Maha Kuasa, dan suaminya yang syahid bahwa dirinya akan menapak jalan perjuangan sampai bendera keadilan bisa berkibar di Palestina. Setiap kali dia merindukan suaminya dia membaca ayat Al-Qur’an itu dan perasaan tenang langsung merayap ke seluruh relung dirinya.[]

Anisa/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *