Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 September 2018

Cerita Pendirian Masjid Terapung Palu yang Kini Doyong Tersapu Tsunami


Cerita Pendirian Masjid Terapung Palu yang Kini Doyong Tersapu Tsunami

islamindonesia.id – Cerita Pendirian Masjid Terapung Palu yang Kini Doyong Tersapu Tsunami

 

Gempa bumi yang disusul tsunami pada Jumat (28/9/2018), memporakporandakan pesisir Kota Palu dalam sekejap. Ratusan warga meninggal dunia. Sejumlah bangunan rusak parah, bahkan hingga runtuh. Tak terkecuali Masjid Arwam Bab Al Rahman yang lebih dikenal sebagai masjid terapung Palu.

Masjid yang dulunya berdiri kokoh kini doyong. Hanya setengah bangunan hingga kubah masjid saja yang masih terlihat setelah tsunami menerjang. Apalagi, lokasi masjid yang berdiri pada 2011 itu dekat dengan Pantai Talise, lokasi penemuan korban tsunami Palu terbanyak.

Masjid yang menjadi ikon Kota Palu itu terletak di Jalan Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Berdasarkan cerita warga sekitar, masjid dibangun seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang SPBU di Palu bernama Muhammad Hasan Bajamal.

Menurut warga, alasan Hasan sapaan akrab pengusaha itu membangun masjid ini pada 19 Januari 2011 lalu untuk mengenang jasa almarhum Syekh Abdullah Raqi atau Datuk Karama. Datuk Karama merupakan ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat. Dia diyakini seluruh warga Palu sebagai penyiar agama Islam pertama sejak abad ke-17.

Pembangunan masjid selesai pada 19 Januari 2012 dan diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

“Seperti pernyataan Pak Hasan lalu demikian. Dan peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan langsung Wali Kota Palu, Rusdi Mastura,” kata Baho, warga Kelurahan Lere di sekitar masjid.

Selain untuk mengenang jasa Datuk Karama, pembangunan masjid juga bertujuan untuk menghilangkan kemaksiatan yang sering terjadi di sekitar lokasi masjid, sebelum masjid ini terbangun. Pasalnya, lokasi itu terhubung langsung dengan dua pusat hiburan malam di Palu, seperti kafe remang-remang Pantai Taman Ria dan Lokalisasi Pantai Talise tempat banyak pekerja seks komersial (PSK) menjajakan diri.

“Dulu lokasi masjid ini menjadi sarang maksiat anak-anak muda. Dijadikan tempat mabuk-mabukan, pacaran, bahkan sampai berhubungan badan. Tapi alhamdulillah sejak masjid ini ada, segala bentuk maksiat itu tidak ada lagi,” tutur Baho yang mengaku lahir dan besar di sekitar lokasi masjid.

Masjid tersebut tidak pernah sunyi dari kunjungan jemaah yang hendak beribadah maupun orang-orang yang hanya sekadar singgah sambil berfoto-foto dengan latar belakang masjid terapung Palu. Jika sore hari menjelang, banyak warga menghabiskan waktunya di depan dan di dalam masjid.

Suasana semakin ramai saat memasuki bulan Ramadan. Masjid seluas 121 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 150 anggota jemaah itu dijadikan sebagai salah satu tempat favorit warga Palu untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba.

“Saya bersama teman-teman sudah sering ke sini, selain untuk salat juga sambil ngabuburitdengan menikmati suasana Teluk Palu di atas masjid sambil foto-foto seperti saat ini,” ucap salah satu warga Palu, Wahyuni, di lokasi masjid.

Bangunan masjid ini berjarak 30 meter dari bibir pantai Teluk Palu. Di bawahnya terdapat lebih dari 25 tiang penyangga. Tiang-tiang itu dapat terlihat jelas jika air laut surut. Namun jika air laut pasang, masjid ini terlihat seolah-olah terapung di atas permukaan air laut.

 

Jalan masuk menuju ke dalam masjid dibuat jembatan berlantai tegel yang dihiasi beberapa lampu penerangan pada sisi kiri kanannya. Saat berada di atas jembatan masuk masjid, pengunjung juga dapat menikmati keindahan Teluk Palu dan kemegahan Jembatan Palu IV, yang tidak jauh dari lokasi masjid.

Selain desainnya yang seolah terapung, masjid ini memiliki keunikan lain. Desain bangunan yang telah modern jelas tampak menjadi pembeda dari seluruh bangunan masjid yang ada di Palu. Apalagi, masjid ini memiliki satu kubah besar dan empat kubah kecil yang mengelilingi pada tiap sudutnya.

Masjid ini tampak begitu megah dan indah dengan balutan warna krem yang mendominasi dipadukan warna hijau dan emas di seluruh bangunannya. Selain itu, kubah masjid dapat memancarkan tujuh warna cahaya lampu saat malam hari.

Ketujuh cahaya lampu itu, mulai dari warna merah, jingga, hijau, unggu, biru, pink, dan putih. Warnanya terlihat berganti-ganti dalam hitungan detik.

Masjid ini memang bukan yang pertama, karena masjid serupa juga telah ada bahkan lebih dulu terbangun di luar Indonesia, seperti di Laut Merah, Kota Jeddah, Arab Saudi dan Tanjung Bungah, Kota Penang, Malaysia.

Sedangkan di Indonesia, masjid serupa bisa juga dijumpai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan; Kota Kendari, Sulawesi Tenggara; dan beberapa kota lainnya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *