Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 04 April 2018

Cara Halus Gus Mus Tanggapi Kontroversi Puisi Sukmawati


Cara Halus Gus Mus Tanggapi Kontroversi Puisi Sukmawati

islamindonesia.id – Cara Halus Gus Mus Tanggapi Kontroversi Puisi Sukmawati

 

Setelah pernyataan ‘Indonesia Bubar tahun 2030’ yang dinukil Prabowo dari novel Ghost Fleet, belakangan menyusul puisi ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati Soekarnoputri yang menuai kontroversi. Sejumlah pihak mempersoalkan puisi yang dibacakan dalam acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 itu sebagai karya bernuansa SARA. Puisi itu merupakan hasil tulisan tangan Sukmawati sendiri.

Dalam puisi tersebut, Sukma menyinggung dan dinilai memperbandingan azan dengan kidung dan cadar dengan tekukan rambut. Meski merupakan opini pribadi, puisi tersebut kini menjadi polemik di tengah masyarakat.

Lalu bagaimana tanggapan ulama yang juga penyair kenamaan, KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus?

Saat ditemui usai kegiatan Santriversitas di lingkup Ponpes Raudlatuth Thalibien, Leteh, Rembang, Gus Mus yang saat itu berjalan berdampingan dengan Bupati Rembang, Abdul Hafidz, justru melempar pertanyaan tersebut kepada Bupati.

“Saya belum dengar. Lha ini mungkin Pak Bupati sudah mendengar,” jawab Gus Mus singkat menjawab wartawan, Selasa (3/4/18) sore.

Abdul Hafidz yang tak menyangka jadi sasaran Gus Mus untuk berkelit, hanya bisa tersenyum dan kemudian buru-buru meninggalkan lokasi acara.

Gus Mus dikenal sebagai sastrawan yang banyak menulis karya-karya kritis sehingga kiai kenamaan tersebut mendapat julukan penyair balsem.

Menilik keengganan Gus Mus menanggapi pro-kontra terkait puisi Sukmawati, setidaknya dapat kita baca: mungkin memang seperti itulah sikap tepat yang perlu kita ambil saat ini. Apalagi bila kita tahu, betapa banyak hal-hal kontroversial yang menimbulkan kegaduhan tak perlu, telah banyak menyita waktu kita yang berharga selama ini. Tak seharusnya kita lalai berulangkali, melupakan tugas kita untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi negeri.

Meski demikian, perlu pula dicatat, bahwa ke depan hendaknya para politisi dan tokoh publik tak lagi gemar menebar pernyataan-pernyataan kontroversial yang tak bermanfaat di tengah masyarakat. Apalagi bila yang bersangkutan sesungguhnya tak layak melakukan hal itu karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *