Satu Islam Untuk Semua

Monday, 07 October 2013

Calo Cium Hajar Aswad Ternyata Warga Indonesia


Tim Pemantau Peningkatan Pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji (TP4H) Jawa Tengah menemukan banyaknya calo yang menawarkan jasa mencium Hajar Aswad di Mekkah.

Dari pantauan yang dilakukan TP4H Jawa Tengah menemukan, sebagian besar praktik percaloan itu dilakukan oleh warga Indonesia sendiri yang sudah terbiasa bertempat tinggal di Mekkah.

“Mereka bekerja berkelompok, baik laki-laki maupun perempuan di sekitar dinding Ka’bah,” kata nggota Tim Pemantau Peningkatan Pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji (TP4H) Jawa Tengah, Dwi Yasmanto, Ahad, 6 Oktober 2013.

Yasmanto menambahkan, para calo sudah mulai berkeliaran dari sisi rukun Yamani. Mereka lalu menawarkan jasa kepada para calon jamaah haji. Karena banyak calo maka lokasi sekitar Hajar Aswad justru semakin sesak.

Akibatnya, jamaah haji asal Jawa Tengah diresahkan oleh aksi calo yang menawarkan jasa untuk mencium Hajar Aswad itu. Para calo ini bekerja secara kelompok dan beraksi di sekitar ka’bah sehingga menjadikan lokasi Hajar Aswad tambah sesak.

Dari penelusuran yang dilakukan tim pemantau menemukan para calo sudah memasang tarif jasanya. “Rata-rata para calo ini menawarkan harga dan memasang tarif yang sangat mahal, yakni mencapai 100 riyal lebih atau setara Rp 310 ribu,” kata Yasmanto.

Tim Pemantau meminta Pemerintah Arab Saudi segera mengambil tindakan untuk melakukan pembersihan para calo itu. Sebab, jika tidak diberantas maka akan sangat merugikan para jamaah haji.

Jamaah haji Indonesia juga diresahkan oleh banyaknya kasus kehilangan yang menimpa para jamaah haji asal Jawa Tengah. Hingga Sabtu (5 Oktober 2013), sudah ada 23 orang jamaah haji yang melaporkan telah mengalami kehilangan barang maupun uang.

Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah Sukawijaya mengatakan, lokasi kehilangan barang maupun uang yang dialami para jamaah haji terdiri dari beberapa lokasi, yakni di kamar jamaah, halaman Masjid Nabawi, dan

Masjidil Haram. “Ada juga empat jamaah haji yang kehilangan tas di perjalanan dari Jeddah menuju Madinah,” kata Sukawijaya.

Dari laporan yang diterima Tim Pemantau, para pelaku pencurian barang-barang milik jamaah ini menyaru sebagai petugas Arab dan menggeledah isi tas jamaah. “Ada juga pelaku yang merogoh tas milik jamaah saat berdesak-desakan,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan kompensasi kepada jamaah haji yang mengalami musibah kehilangan. Ada anggaran Rp 300 juta untuk penggantian atau kompensasi kepada para jamaah haji yang kehilangan. Tiap jamaah haji yang kehilangan akan diganti maksimal Rp 1,5 juta per orang.

Komisi E yang membidangi masalah haji mengusulkan agar dilakukan upaya preventif untuk mencegah adanya kasus-kasus jamaah haji kehilangan barangnya.

Misalnya, uang milik jamaah haji tidak diberikan secara langsung tapi bisa diberikan secara bertahap. “Bisa membagi living cost menjadi tiga tahap, tidak sepenuhnya diberikan di depan,” kata Sukawijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *