Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 30 November 2016

Cak Nun: Satu Negara Satu Keluarga Kok Saling Nyinyir, Ini Penyakit


cak-nun-satu-negara-satu-keluarga-kok-saling-nyinyir-ini-penyakit

islamindonesia.id – Cak Nun: Satu Negara Satu Keluarga Kok Saling Nyinyir, Ini Penyakit

 

Hadir dalam acara Boyolali Mengaji: Ngangsu Tepo Seliro Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng, yang digelar di Kompleks Alun-Alun Boyolali, Sabtu (26/11/206) malam lalu, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyayangkan adanya “penyakit” yang menggerogoti sebagian warga bangsa Indonesia. Menurut pria yang akrab disapa Cak Nun ini, yang namanya sesama warga bangsa yang satu negara, satu keluarga, satu umat itu mestinya antara satu dengan yang lain wajib saling menguatkan, bukan saling ngenyek (nyinyir, saling ejek) dan saling nyukur-nyukurin bila ada salah satu di antara mereka yang sedang tertimpa keburukan.

Apa yang menjadi keprihatinan Cak Nun, sangat mudah kita temukan contohnya di Tanah Air. Baik di dunia nyata seperti di mimbar-mimbar ceramah maupun di dunia maya, khususnya di media sosial. Bagaimana banyak orang saling berbeda pandangan namun cenderung mengungkapkannya hampir pasti selalu dengan nada kebencian dan permusuhan. Lupa bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita mestinya tetap menjunjung tinggi prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan sebagai sesama Muslim, mestinya lebih paham bahwa dalam setiap perbedaan yang ada, sedikit-banyaknya pasti terkandung hikmah dan rahmat Tuhan.

boyolali-mengaji-ngangsu-tepo-seliro-bareng-cak-nun-dan-kiai-kanjeng

“Harusnya orang satu negara, satu keluarga, satu umat, itu kan seperti satu badan. Yang kohesinya tarik menarik satu sama lain dan sudah semestinya saling menguatkan satu sama lain,” papar Cak Nun.

Pimpinan Kiai Kanjeng ini pun kemudian mengibaratkan, ketika manusia berjalan, maka saat kaki kanannya melangkah ke depan, kaki kirinya ya sudah seharusnya ke belakang, saling bergantian dan serasi satu sama lain. Jika tidak, maka ada dua pilihan, tetap diam di tempat atau beranjak tapi dengan cara melompat tak wajar dan malah seperti pocong.

Lebih lanjut Cak Nun menegaskan tentang filosofi satu umat sebagai satu tubuh utuh, yang mesti terdiri dari banyak bagian tapi tetap terhitung satu badan. Maka, andaikata salah satu bagian tubuh itu sakit, yang lain pun otomatis bakal merasa sakit.

“Kalau kakimu terantuk batu, siapa yang berteriak kesakitan? Mulutmu. Tapi lihat sekarang kondisi bangsa ini. Jelas-jelas kaki terinjak, apa mulut berteriak? Tidak. Yang ada malah menyoraki, nyukur-nyukurin. Kita justru saling menyakiti dan mensyukuri keburukan yang menimpa orang lain,” ujar Budayawan asal Jombang itu seraya mengingatkan kewajiban antara sesama anak bangsa untuk lebih saling tepo seliro.

Dalam kesempatan tersebut, Cak Nun juga menyoroti persoalan “ketidakseimbangan” yang sedang terjadi antara manusia dengan alam.

“Perubahan alam saat ini, mestinya menjadi cermin bagi manusia. Mestinya membuat manusia bertanya: kira-kira apa kesalahannya, sehingga Allah mengubah alam. Jadi, kalau ada hujan kok salah mangsa (turun tidak pada waktu atau musimnya), berarti manusianya yang salah. Jadi ternyata ada sesuatu yang tidak seimbang, tidak berdiri tegak,” pungkasnya menggambarkan keadaan nasional rumah besar NKRI yang dalam beberapa tahun terakhir dalam situasi makin rentan kedaulatannya di saat berbagai ketidakseimbangan dan dispresisi tengah berlangsung.

Maka untuk itulah seluruh warga bangsa perlu kembali rajin “mengaji”, agar lebih mampu berkaca pada keadaan dan kemudian tergerak untuk terus-menerus instrospeksi dan memperbaiki diri.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *