Satu Islam Untuk Semua

Monday, 17 April 2017

Cak Nun: Hidup Tak Sesederhana Soal Ujian Pilihan Ganda


Cak Nun Hidup Tak Sesederhana Soal Ujian Pilihan Ganda

islamindonesia.id – Cak Nun: Hidup Tak Sesederhana Soal Ujian Pilihan Ganda

 

Entah sudah berapa kali Cak Nun dan Kiai Kanjeng menemani warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk banyak keperluan seperti perayaan harlah, acara pondok pesantren, peresmian, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Termasuk di Magetan beberapa waktu lalu, saat warga NU tengah memeringati harlah NU ke-94 di Stadion Yosonegoro Magetan.

Ribuan orang dari segenap penjuru Magetan khususnya warga NU telah memenuhi stadion ini. Cak Nun sudah berada di panggung ditemani para pengurus NU, Kiai, pemuka masyarakat dan Bupati Magetan.

Berjumpa warga masyarakat Nahdliyin yang merupakan “kelas bawah” dari struktur sosial politik Indonesia, selalu membuat Cak Nun menyematkan optimisme akan harapan masa depan. Betapa tidak! Kesetiaan dan kesungguhan, keikhlasan dan kemurnian kehadiran mereka untuk nyengkuyung niat baik “Ruwatan Nusantara di Bumi Ki Mageti” — seperti judul acara malam itu, rasanya mustahil tak bernilai di mata Allah, yang Cak Nun mohonkan bisa menjadi alasan bagi Allah untuk menyelamatkan Indonesia.

Apa yang akan Cak Nun berikan untuk mereka? Cak Nun hanya ingin mengajak semua warga Nahdliyin bercermin melalui sejumlah pertanyaan pada dan tentang diri NU. Tetapi sebelum itu, Cak Nun mbeber hal-hal sederhana yang sudah familiar di lingkungan NU tetapi melalui rute dan cara berpikir yang agak berbeda, tentang cinta segitiga (Allah-Kanjeng Nabi-umat Islam), memahami shalawat, sejarah shalawat Nariyah, dan lain-lain.

Komunikasi sejak awal berlangsung enak dan akrab. Cak Nun sendiri menyampaikan Magetan itu punya tempat tersendiri dalam pandangan dan pikiran beliau. Termasuk acara bertajuk Ruwatan Nusantara ini, yang menurut Cak Nun malah ndisiki atau lebih maju dari NU Pusat. Demikian Cak Nun mengapresiasi dan memuji. Cak Nun juga berharap agar pada momentum di Magetan itu Allah berkenan menentukan takdir-Nya untuk Indonesia.

Sejak awal, Cak Nun perlahan tapi pasti telah menyampaikan wawasan cukup banyak. Dari pemahaman ahsani taqwimrodhiyatan mardhiyah, cerita tentang Badui Ya Karim Ya Karim, hakikat cinta yang tak banyak dipahami sebagai sikap hidup oleh banyak orang, dan lain-lain. Termasuk respons Cak Nun atas sambutan Ketua PCNU Magetan dengan memperkenalkan tafsir baru mengenai fis silmi kaffah.

Eling thok itu juga sudah satu bentuk shalawat. Tidak mengumpat saja, juga sudah satu bentuk shalawat,” Cak Nun mengajak jamaah Nahdliyin melengkapi sisi-sisi substansial shalawat dan shalawatan.

“Tak ada yang kotor. Yang ada adalah tidak berada pada tempat dan proporsi yang tepat. Ada ruang dan waktunya. Itulah Islam,” urai Cak Nun lebih lanjut.

“Saya tak mau ikut melihat masyarakat atau orang dengan kategorisasi radikal, liberal, moderat, fundamentalis dan lain-lain, karena semua unsur itu adalah bagian-bagian di dalam diri manusia. Manusia bukan bagian-bagian itu, melainkan mengandung semua unsur itu”.

“Semua yang berlangsung itu bisa dilihat sebagai sebab-akibat. Guyub adalah akibat. Radikalisme yang disebut dan ditudingkan orang itu juga akibat. Orang marah karena disebabi oleh ketidakadilan. Maka, jangan hanya melihat akibat-akibat, tapi lihat juga sebab-sebabnya”.

“Mari kita kurangi kebiasaan melihat hidup sebagai multiple choice (pilihan ganda). Itu mengakibatkan kita kalau melihat misalnya si A salah, maka si B pasti benar. Atau sebaliknya. Hidup tidak seperti itu. Bahkan yang materialistik pun tak bisa diperlakukan dengan multiple choice”.

“NU itu seperti dapur untuk memasak sesuatu yang menyegarkan orang. Begitulah kehidupan. Bahkan jika perlu agama sebagai identitas kita orang tak tahu, tetapi yang kita berikan adalah output sosial yang terbaik”.

Silmi itu pokoknya tiap hari Anda melakukan apa yang Anda bisa. Bisanya apa, itu sudah cukup. Akumulasi dari semua itu nanti Allah memakainya buat menyelamatkan Indonesia. Dan Magetan malam ini memberi teladan Silmi,” puji Cak Nun.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *