Satu Islam Untuk Semua

Monday, 18 July 2016

Cak Nun: Hanya Cina dan Iran yang Siap Mencari Pemimpin Sebenarnya


photo_2016-07-17_17-15-43

IslamIndonesia.id – Cak Nun: Hanya Cina dan Iran yang Siap Mencari Pemimpin Sebenarnya

 

Ditanya soal pemilihan pemimpin daerah di Yogyakarta, budayawan Emha Ainun Najib enggan berkomentar lebih jauh di sela-sela dialog dalam Syawalan Keluarga Musisi di Yogyakarta (16/7). Pria yang akrab disapa Cak Nun ini memilih menggambarkan fenomena demokrasi Indonesia secara umum, dimana baik sosial maupun politik, belum mendukung melahirkan babak final yang menampung calon pemimpin dalam arti sebenarnya.

“Tapi saya tidak enak ngomong begini-begini,” katanya menahan diri sambil mengingatkan  suasana Syawalan yang dihadiri berbagai kalangan termasuk pejabat malam itu, belum kondusif menjawab pertanyaan politik, khususnya soal pilkada serentak tahun depan.

Cak Nun yang diundang sebagai ‘sang penyemangat’ akhirnya berbagi wawasan secara global bahwa demokrasi dengan berbagai syaratnya itu telah dijalankan oleh sejumlah negara yang masyarakatnya telah siap. Pria yang telah mengunjungi berbagai negara ini mencontohkan Republik Rakyat Cina dan Republik Islam Iran yang menurutnya telah kondusif memilih pemimpin dalam arti sebenarnya.

“Hanya Cina dan Iran yang siap untuk mencari pemimpin yang sebenarnya. Karena mereka sama-sama memakai Imamah. Imamah artinya, adanya mobilisasi vertikal yang benar-benar dari bawah ke atas atau bottom-up,” katanya.

Tak heran, sebagaimana Iran, Cina mampu memobilisasi rakyatnya secara sosialistik, sehingga bisa berdiri di atas kaki sendiri dengan kuat di hadapan kekuatan dunia lainnya.  “Sedemikian kuatnya, baik ke luar maupun ke dalam dirinya, hanya Iran yang tidak bisa diintervensi Cina,” kata Cak Nun tanpa menafikan adanya unsur kapitalistik ala Cina.

Cak Nun lalu menceritakan pengalamannya di luar negeri seperti di Bahrain yang jumlah produk Cina begitu dominan. “Serban, sajadah, permadani, tasbih, semua ‘made in dragon’,” kisahnya sembari mengingatkan bahwa ia sekedar memberi gambaran yang bukan berarti dirinya anti atau pro-Cina.

Adapun kepemimpinan di Iran, lanjut pria yang juga dikenal intelektual Muslim ini, diperhatikan secara seksama sejak dari tingkat RT/RW, kampung, kecamatan, dan seterusnya.  “Sehingga ketika mereka memilih pemimpin regional, betul-betul terpilih. Jika mereka memilih presiden, terpilih secara eskalatif, berjenjang.”

Tapi di indonesia, sejauh ini, pilkada sejatinya tidak seratus persen merupakan mekanisme demokrasi. Meskipun praktiknya kelihatan demokratis. “Di Indonesia, siapa saja bisa menjadi apa saja.”

Alih-alih demokratis, penulis ‘Titik Nadir Demokrasi’ (1995) ini bahkan pernah menyebut pilkada itu dagang. Ia memberi contoh bagaimana koalisi partai politik yang minus visi kecuali pragmatisme semata.  Namun mengapa sebagian peneliti asing memuji demokrasi di Indonesia? tanya seorang romo Katolik yang juga hadir Syawalan.

“Kemungkinkan di Indonesia memiliki tingkat keragaman yang tak tertandingi di seluruh dunia namun kita tidak pernah mengalami benturan seperti di Yogoslavia atau Uni Soviet,”

Oleh sebab itu rakyat Indonesia sangat luar biasa, katanya.  Jika dianalogikan, empat jalur rel kereta api – dengan sejumlah titik persilangan yang padat lalulintas, namun jarang sekali terjadi benturan.

“Di Indonesia, selalu ada cara yang berliku-liku jalannya, sampai akhirnya sampai juga. Secara keseluruhan, lalu lintas di Indonesia itu kan luar biasa kacaunya, tetapi tingkat kecelakaan sangat rendah jika dibanding negara-negara seperti Korea yang sangat tertib,” katanya menyinggung kompleksitas masalah dan tingkat benturan massal di Indonesia sebagai salah satu yang menarik diteliti.

Dari pantauan IslamIndonesia, Syawalan yang diadakan oleh keluarga musisi, penyanyi, dan artis panggung ‘Kampayo’ Yogyakarta ini berlangsung penuh keakraban di gedung XT Square. Sesekali, mereka yang rata-rata sepuh, menyanyikan lagu-lagu lawas secara bersama-sama diiringi organ tunggal.

Selain mendukung seniman-seniman dari generasi muda, Kampayo juga tidak jarang  ‘bakti sosial’  khususnya membantu seniman-seniman senior yang sedang sakit di Yogyakarta. Mereka yang lebih muda bahkan telah menganggap Cak Nun sebagai kakak, karena sejak dulu, budayawan senior ini kerap datang menemani mereka ‘nongkrong’.

Karena itu, lepas dari masalah sosial-politik, Cak Nun bersyukur telah mengenal dan bersama manusia-manusia Indonesia yang menurutnya luar biasa.  Termasuk yang tergabung seperti dalam kelompok musisi yang tak hanya mengibur sekitarnya dengan musik tapi juga dengan hati.

“Saya hanya menemani manusia-manusianya saja, dan saya ke sini karena memiliki sahabat yang luar biasa, yang memakai hati untuk menghibur dunia, dan itu sungguhan,” kata Cak Nun merujuk teman-teman Kampayo yang, pada malam itu, turut mengundang pengerajin batik penyandang disabilitas. []

photo_2016-07-17_17-15-52

YS/IslamIndonesia.

 

2 responses to “Cak Nun: Hanya Cina dan Iran yang Siap Mencari Pemimpin Sebenarnya”

  1. pro khilafah says:

    itulah gunanya khalifah a. ayo sgra dukung penegakan khilafah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *