Satu Islam Untuk Semua

Monday, 10 April 2017

Cak Nun: Belajarlah Benar Memilih Cita-Cita


Cak Nun Belajarlah Benar Memilih Cita-Cita

islamindonesia.id – Cak Nun: Belajarlah Benar Memilih Cita-Cita

 

Hadir di alun-alun Purbalingga dalam acara Sinau Bareng bertajuk “Shalawat Nariyah Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng”, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan beberapa hal penting tentang keutamaan shalawat. Di antaranya bahwa umat manusia dalam hal ini kaum Muslimin yang mengharapkan karunia apapun dari Allah, maka hendaknya mereka sadar bahwa hanya Rasulullah sajalah yang patut dijadikan sebagai wasilah atau perantara, bukan diri mereka sendiri atau yang selainnya. Karena Rasulullah merupakan hamba pilihan dan kekasih Allah. Sementara manusia biasa, penuh kelemahan dan dosa.

Untuk mengantarkan pemahaman hadirin terkait betapa pentingnya peran wasilah atau perantara dalam banyak urusan kehidupan sehari-hari, Cak Nun menganalogikan dengan contoh sederhana berupa keinginan seseorang yang ingin mendapatkan bantuan dan support dari Bupati saat ingin mendirikan UKM atau lembaga sosial. Menurut Cak Nun, hampir bisa dipastikan orang itu akan membuat proposal dan lebih memilih mengirimkannya kepada Bupati melalui orang tertentu yang sudah dikenal dekat bahkan disenangi oleh Bupati tersebut, dan bukan asal memilih pengantar sembarangan tanpa mempertimbangkan faktor kedekatan sebagaimana dalam contoh dimaksud.

Acara ini diprakarsai langsung oleh Bupati Purbalingga H. Tasdi untuk menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat, dan Cak Nun dipandang sebagai figur yang tepat untuk keperluan ini.

Masyarakat dan jamaah tampak memadati Alun-alun siap mengikuti Sinau Bareng. Para pemuka masyarakat dari Bupati dan jajarannya hingga tokoh-tokoh kemasyarakatan dan keagamaan yang telah berada di panggung bersama Cak Nun juga menggambarkan situasi positif di lapisan para pemimpin Purbalingga. Dan, Cak Nun siap memodulasikan para stakeholder ini beserta segenap masyarakat menuju pemahaman dan atmosfer yang baik dan ber-output solidnya hubungan seluruh elemen dan warga masyarakat.

Pada tahap awal, Cak Nun mengajak semua hadirin berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Syukur. Di sela-sela dua lagu itu, Beliau sudah nyicil menyampaikan kalimat-kalimat untuk meyakinkan dan membesarkan hati masyarakat.

Cak Nun, seperti biasa, selalu punya cara berpikir unik tapi luput dari genggaman kebanyakan orang.

“Keadaan apapun yang sulit, cobalah tetap disikapi dengan syukur dan syukur. Karena sebenarnya hidup ini adalah sebab-akibat. Kalau Engkau bersyukur terus, itu akan menjadi sebab bagi Allah untuk mendatangkan anugerah atau jalan keluar yang tidak terduga-duga,” kata Cak Nun mengajak masyarakat untuk terus setor sebab sebanyak-banyaknya kepada Allah.

Dalam kesempatan yang sama, saat beberapa santriwati yang dimintanya naik ke atas panggung ditanya tentang apa cita-cita mereka masing-masing, Cak Nun juga sempat memberikan koreksi dan tambahan pemahaman, setelah mendengar jawaban dari mereka yang menurut Cak Nun hampir semuanya berupa cita-cita terkait kebendaan atau serba materi. Padahal menurut Cak Nun, ada hal lebih penting daripada sekadar menjadi apapun, yaitu cita-cita mulia yang lebih menekankan pada harapan ingin bermanfaat bagi sesama makhluk Tuhan. Jadi mestinya, kita harus ikhlas Allah takdirkan menjadi apa saja, asal kita menjadi manusia yang bermanfaat dan mendapatkan ridha-Nya.

Itulah faktanya, banyak orang yang belum paham soal cita-cita. Oleh karena itu sudah seyogianya mereka terus belajar dengan benar dalam memilih cita-cita. Tanpa itu, manusia cenderung akan tergelincir pada apa-apa yang berupa tujuan pemuasan nafsu terhadap kebutuhan yang serba materi atau kebendaan semata, melupakan yang lebih utama: kebermanfaatan optimalnya sebagai hamba atau makhluk paling mulia.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *