Satu Islam Untuk Semua

Friday, 05 December 2014

Cahaya Islam di Austria


Sejumlah dosen STAIN Kudus  dapat kesempatan mengunjungi Austria dalam rangka studi dan dialog agama. Di sana, mereka bertemu Dr. Fuad Sanac, President of Muslim Community (MC) Austria. Dalam dialog, dosen-dosen STAIN Kudus mendapatkan pemahaman bagaimana Islam mendapat tempat yang cukup istimewa di negara itu.

Menurut Zaimatus Sa’diyah, dosen Pendidikan Bahasa Arab STAIN Kudus yang ikut dalam rombongan itu, saat ini pemerintah Austria tengah membahas draf undang-undang yang mengatur komunitas Muslim. Sebagaimana diketahui, Islam merupakan salah satu agama yang diakui secara resmi.

“Pemerintah memberikan kesempatan umat Islam membangun masjid, mendirikan lembaga pendidikan dan juga melakukan ritual keagamaan lainnya,” kata alumnus Madrasah Aliyah Program Keagamaan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur ini.

Tidak ada diskriminasi antara penduduk muslim dengan penduduk beragama lain, lanjutnya.

Namun, kata Zaimatus, kendala tetap ada. Terutama saat maraknya isu terorisme yang kerap kali dikaitkan dengan Islam. Tentu saja hal tersebut tidak lepas dari propaganda pihak luar yang mencoba mendiskreditkan Islam dan menjadikannya sebagai agama yang identik dengan teror. Pemerintah Austria yang mulai terusik dengan isu ini, menyusun draf perubahan undang-undang tentang Islam.

Perlu diketahui bahwa undang-undang yang mengatur umat Islam di Austria sudah berusia lebih dari 100 tahun. “Selama itu tidak ada masalah yang muncul hingga berakibat pada perubahan undang-undang tersebut,” ungkap lulusan UGM Kajian Timur Tengah ini. “Ada tiga hal yang sangat mengusik umat Islam dan mengandung unsur diskriminasi,” katanya sembari memerinci.

Pertama, aturan yang melarang umat Islam di Austria untuk menerima bantuan finansial dari luar negeri, baik dari negara Arab maupun lainnya. Kedua, aturan bahwa imam masjid yang juga berperan sebagai seorang mufti bagi jamaahnya harus merupakan lulusan sekolah Islam di Austria. Ketiga, penetapan standar terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Jerman.

Selain terorisme, isu peningkatan jumlah penduduk muslim Austria secara signifikan dari tahun ke tahun juga menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah. Menurut Mr. Farouq yang sempat ditemuinya di kantor IRPA (semacam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah di Indonesia yang dikelola oleh umat Islam dengan subsidi dari pemerintah Austria), selain imigrasi, faktor utama peningkatan jumlah penduduk muslim secara signifikan tersebut adalah paradigma berpikir yang berbeda antara umat Islam dengan orang Barat khususnya masalah keturunan.

“Umat Islam rata-rata menikah di usia yang relatif muda dan mempunyai banyak keturunan,” terangnya. Selain karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW, menikah juga salah satu bentuk ikhtiar untuk keberlajutan hidup manusia, lanjutnya.

Sebaliknya, bule di Austria rata-rata menikah di usia “mapan” dan mungkin hanya mempunyai satu anak. Karena itu, wajar jika jumlah penduduk muslim di Austria kian tahun semakin bertambah. Bahkan, sebuah surat kabar lokal di Wina menulis tentang perkiraan jumlah muslim di Austria pada tahun 2046 akan meningkat menjadi 24 % dari jumlah total pendudukAustria (saat ini jumlah penduduk muslim 600.000 jiwa atau setara dengan 6% dari total penduduk).

“Jika itu terbukti benar, maka siap-siap saja Eropa menjadi benua Eurab alias Eropa Arab,” katanya sumringah. Tapi kendati demikian, tentunya bukan hanya kuantitas yang dipikirkan, namun kualitas generasi Islam yang cemerlanglah yang dinantikan.

Hal lain yang menarik untuk diceritakan adalah jaminan bagi konsumen Muslim terkait penyediaan makanan halal. “Jika ingin aman mengonsumsi makanan di sini sangat gampang, cari saja kedai-kedai makanan yang rata-rata dimiliki orang Turki dan Mesir,” katanya berbagi tips. Cara menandainya pun mudah, biasanya mereka menjual kebab. “Kadang saat kita datang mereka langsung mengatakan ‘halal… halal’,” terangnya.

Menurut Aminah Syakir, Direktur IRPA, untuk mendapatkan daging halal, Muslimin bisa membelinya di beberapa supermarket umum yang menyediakan produk bersertifikat halal atau supermarket khusus milik warga Muslim. “Rata-rata umat Islam di sini sudah sangat akrab dengan tempat itu. Bahkan dalam satu kesempatan kami pernah berkunjung ke pasar tradisional yang seluruh penjualnya adalah warga muslim Austria,” ungkapnya. Ada toko khusus baju-baju khas Turki, lapak pedagang sayuran, buah, ikan, ayam, daging dan sebagainya. “Sungguh sangat menarik,” katanya.

(Wahyu/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *