Satu Islam Untuk Semua

Friday, 27 April 2018

Buya Syafi’i: Jangan Sampai Memutlakkan Tafsir Seperti Mutlaknya Wahyu


Sosok Capres-Cawapres 2019 Versi Buya Santri, Muda, Luar Jawa

islamindonesia.id – Buya Syafi’i: Jangan Sampai Memutlakkan Tafsir Seperti Mutlaknya Wahyu

 

 

Tokoh sepuh Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif menegaskan tafsir atau pendapat seseorang  manusia bersifat relatif. Karena itu, tafsir muncul secara beragam dalam sejarah umat manusia.  Sebagian mungkin saja salah, sebagian lagi mungkin saja benar.

Berbeda dengan tafsir, Al-Qur’an merupakan wahyu  yang bersifat mutlak kebenarannya. “Jadi jangan sampai memutlakkan tafsir atau pendapat seperti mutlaknya wahyu,” kata pria yang akrab disapa Buya ini dalam suatu bedah buku di Jakarta Convention Centre, Kamis (19/4), seperti dilansir Muhammadiyah.or.id. “Jika ada perbedaan tafsir, seharusnya kita diskusikan. Bukan menghukumi.”

Meski demikian, sebagian umat Islam menganggap tafsirnya paling benar dan tafsir selainnya salah. Sedemikian ngototnya, sesama Muslim tega saling menumpahkan darah. Padahal Al-Qur’an mengajarkan untuk bermusyawarah ketika terjadi perbedaan pendapat dalam berbagai hal, termasuk politik.

“Kenapa Perang Jamal dan Siffin tidak dihentikan dengan musyawarah, padahal ayatnya jelas,” katanya. “Sahabat Ustman, Ali dan yang lain dibunuh karena masalah perbedaan politik.”

Karena itu, umat Islam harus jeli dalam memilah antara ajaran Islam dan warisan masa lalu umatnya. Sebagian perang yang hanya diakibatkan perbedaan pendapat tanpa jalur musyawarah merupakan warisan yang harus dihindari.

“Kita harus jeli membedakan mana Arabisme dan mana Islam,” ujar sejarawan ini. “Dalam pembacaan saya, ISIS, Boko Haram, dan lain-lain adalah warisan dari masa lalu.”

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *