Satu Islam Untuk Semua

Friday, 31 March 2017

Buya Syafi’i: Betapa Jauh Jarak Kita dengan Al-Qur’an


buya syafi'i

islamindonesia.id – Buya Syafi’i: Betapa Jauh Jarak Kita dengan Al-Qur’an

 

Di tengah banyaknya Muslim yang mengklaim paling benar dalam mengamalkan kitab sucinya, tokoh senior Muhammadiyah justru melihat jurang yang lebar antara Al-Qur’an dan penganut ajarannya. Sebagai contoh, Buya menunjukkan pesan Quran yang menyatakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Namun dalam prakteknya, Muslimin bahkan belum bisa menjadi rahmat bagi sekitarnya.

“Betapa jauh jarak kita dengan Al-Quran,” kata Buya dalam bedah Buku ‘Islam’ (Mizan, 2017) karya Cendekiawan Muslim Fazlur Rahman di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, seperti dilansir  Suaramuhammadiyah.id,  23/3.

Hal ini ia ungkapkan mengingat keprihatinan Rahman yang mendalam tentang masalah ini. Bagi Buya, keprihatinan Rahman yang juga gurunya itu didorong oleh kenyataan belum ada sarjana Muslim yang telah berupaya secara sungguh-sungguh untuk menyelam ke dalam prinsip-prinsip moral-etika Al-Quran sebagai bagian dari pandangan dunianya yang menyeluruh dan komprehensif, secara sistematis .

Klaim Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia harus dipahami secara benar sebagai sesuatu yang fungsional dan memiliki nilai-nilai praktis dalam membimbing kehidupan kolektifnya karena Kitab Wahyu ini adalah sebuah dokumen yang secara jujur bertujuan buat manusia.

“Al-Quran itu multi tafsir, sehingga shalih likulli zaman wa makan,” kata Buya Syafii.

Menurutnya, Quran itu tidak memiliki tangan dan kaki, maka tugas manusialah yang memahaminya. Cara terbaik menafsirkannya adalah dengan membiarkan Quran berbicara tentang dirinya, tanpa dicampuri dengan pengaruh ideologi penafsir.

Dalam sebuah kuliah, Fazlur Rahman pernah berkata, “Apa pun yang kamu pelajari, timbang dia dengan Al-Quran.” Bahkan, kata Buya Syafi’i, hadis sekalipun harus tunduk kepada Al-Quran sebagai yang memiliki otoritas tertinggi, namun bukan berarti mengingkari hadis.

“Memahami Quran harus dengan aqlun shalih dan qalbun salim,” katanya.

Ketika menghadapi realita Al-Quran itu multi tafsir dan banyak perbedaan pendapat, maka langkah yang paling tepat adalah saling berlapang dada. “Kalau kita takut berbeda pendapat, takut disembelih orang karena memiliki pendapat berbeda, maka jadi fosil saja,” tegas Buya. Bagi Buya, seorang muslim harus percaya diri dan tidak mudah menyalahkan atau kagetan dengan pendapat yang berbeda.

Terpenting, kata Buya Syafii, siapapun yang berbeda pendapat harus memiliki dalil dan adillah atau argumentasi yang kokoh.

“Tidak boleh ikut-ikutan. Karena di akhirat nanti, pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban sendiri-sendiri,” ulasnya.

Bagi Buya, siapapun boleh tidak setuju dengan pilihan dan pendapat orang lain, namun ia tidak berhak untuk menghukum dan menghakimi orang yang berbeda.

“Kita boleh tidak setuju dengan Syiah, Ahmadiyah, tapi apa hak duniawi kita untuk menghukum mereka,” katanya.

Konflik antara Sunni, Syiah, Khawarij, kata Buya, merupakan konflik elit Arab masa awal. Konflik itu bahkan melibatkan kader terbaik Nabi, melibatkan Aisyiyah, Ali, Muawiyah dan lainnya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya, konflik itu diperpanjang dan diwarisi hingga sekarang ke seluruh dunia muslim.

Dalam hal itu, Buya Syafi’i mengajak semua untuk terus mencari kebenaran. “Para pencari kebenaran itu dadanya lapang,” kata Buya.

Menurutnya, kebenaran, kebijaksanaan atau hikmah itu ada di semua tempat, maka tugas manusia adalah memungutnya dari mana pun datangnya.

“Timur dan Barat itu milik Allah, maka carilah kebenaran di mana saja, di Timur, di Barat,” katanya.

Seperti diketahui, Fazlur Rahman barangkali merupakan salah satu raksasa pemikir yang dimiliki oleh Islam pada abad modern. Ia dengan sekuat tenaga berupaya merumuskan akar persoalan-persoalan masyarakat muslim berikut solusinya.

Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan. Hal itu bisa dilihat dari karya-karya yang lahir dari beliau, diantaranya seperti Major Themes of Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Islam, Islamic Methodology in History.

Pada 1985 saat mengunjungi Indonesia, Fazlur Rahman pernah menubuatkan bahwa peradaban Islam yang gemilang akan dimulai dari Indonesia, sebuah wilayah yang didiami oleh banyak masyarakat Muslim dengan tetap mempertahankan kekhasan budayanya.

Dan Buya Syafi’i Ma’arif  adalah salah satu dari segelintir generasi pertama mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Chicago dan sekaligus generasi pertama yang belajar secara langsung pada Fazlur Rahman.[]

 

YS/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *