Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 22 April 2018

Buya Syafi’i: Banyak Orang Hafal Al-Qur’an Tapi Sulit Berperilaku Qur’ani


Pidato-Kebangsaan-Buya-Syafii-Maarif-di-Milad-ke-34-MIzan-e1490896510108

islamindonesia.id – Buya Syafi’i: Banyak Orang Hafal Al-Qur’an Tapi Sulit Berperilaku Qur’ani

 

Tokoh senior Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif prihatin dengan jarak yang menganga antara pesan Al-Qur’an dan prilaku umat Islam saat ini. Sebagian umat bahkan berbangga diri dengan simbol lahiriah Al-Qur’an meskipun tampak sulit mengamalkan makna dan pesan di balik simbol itu.

“Saat ini, banyak orang hafal Qur’an, tetapi kenapa sulit berperilaku sesuai ajaran Qur’an,” kata pria yang akrab disapa Buya Syafi’i ini dalam bedah buku yang dikarangnya berjudul “Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam” di Jakarta Convention Centre, Kamis (19/4) seperti dilansir muhammadiyah.or.id. “Ayatnya jelas, ‘sesungguhnya sesama kaum muslimin adalah saudara’ tapi kenapa sulit melaksanakan?”

Di kesempatan lain, Buya mengatakan, sebagian umat bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai alat untuk mencapai ambisi nafsunya. Entah memahami atau tidak makna ayat, mereka mencatut firman Ilahi untuk menyerang orang dan kelompok yang berbeda cara pandang dengannya.

Padahal, kata Buya, Al-Qur’an tak pernah mengajarkan kekerasan sesama manusia, apalagi sesama saudara seiman. “Coba saja cari di Al-Qur’an, apakah Islam mengajarkan teror? tanya Buya retoris. “Tidak ada”

Meski perintah Tuhan dipandang bernada kekerasan oleh hamba-Nya, ayat itu tidak boleh ditelan begitu saja tanpa penalaran akal dan hati. Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini menegaskan, pesan Al-Qur’an tak boleh disimpulkan dengan pemahaman sepenggal-penggal.

“Memahami Al-Qur’an itu harus dilihat secara keseluruhan karena di sana ada benang merah,” katanya. “Bukan dengan pemahaman yang dangkal dan sepenggal-sepenggal.”

Meski demikian, umat Islam dituntut untuk senantiasa menyelami samudera makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Baik dengan belajar di institusi pendidikan maupun dengan guru otoritatif.

Hal ini karena Kitab Suci merupakan petunjuk bagi semua umat manusia untuk mendapatkan tujuannya yang hakiki. Sedemikian pentingnya, kata Buya, Al-Qur’an seharusnya menjadi dasar segala pertimbangan bagi sikap manusia.

“Apapun yang Anda baca, pikir dan renungkan timbang dengan al-Qur’an,” kata Buya mengutip nasihat gurunya Fazlur Rahman.  “Karena Al-Qur’an adalah hudan linnas (petunjuk bagi umat manusia).”

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *