Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 08 April 2017

Bupati Purwakarta: Di NU, Saya Belajar Islam Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Orang Sunda


Dedi Mulyadi

islamindonesia.id – Bupati Purwakarta: Di NU, Saya Belajar Islam Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Orang Sunda

 

Bupati Purwakarta Dedi Mulayadi mengungkapkan pengalamannya belajar Islam di lingkungan Nahdlatul Ulama. Menurut pria yang akrab disapa Kang Dedi ini, di NU, ia mendapat kesempatan mempelajari Islam secara keseluruhan tanpa harus kehilangan identitas dirinya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh tanpa harus meninggalkan identitas saya sebagai orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” kata Dedi di forum Seminar Nasional Sarung Nusantara di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, seperti dilansir pikiran-rakyat.com, 6 April.

Dalam forum sarung itu misalnya, Dedi memandang kosmologi kesundaan juga berkisah soal “Lutung Kasarung”. Berdasarkan kisah tersebut,  Lutung Kasarung merupakan pewaris tahta kerajaan yang mengalami cobaan berupa pengasingan di hutan belantara, sebelum akhirnya diangkat menjadi pemimpin.

Dalam konteks ini, pria yang juga dikenal sebagai Budayawan Sunda tersebut mengatakan, sarung berfungsi sebagai media kaderisasi kepemimpinan. Sebab saat seseorang memakainya, ada banyak peraturan yang tidak boleh ia langgar akibat penggunaan sarung tersebut.

Kemudian dari sini lahirlah akhlak, dan tercipta karakter yang kuat. Pria yang juga merupakan pengurus NU di Purwakarta ini membagi “sarung” menjadi dua suku kata.

“Sa” merupakan lambang keinginan manusia dengan segala unsur penciptaannya yang terdiri dari tanah, air, udara dan matahari. Unsur material inilah yang menurut dia harus dikurung.

Hal ini tercermin dari suku kata yang kedua yakni “rung”. Jika seluruh unsur material ini mampu dikurung, maka unsur hakikat kemanusiaan dalam diri manusia yakni ruh akan semakin menguat.

“Segala ketamakkan manusia yang tercermin dari keempat unsur tersebut harus dikurung,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kang Dedi hadir bersama dengan dua pembicara lain yakni Kiai Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo. Di depan hadirin, Dedi mengungkapkan bangga menjadi bagian dari warga Nahdhiyyin.

Seperti diketahui, sejauh ini, Kang Dedi menerapkan kebijakan memakai kain sarung bagi para pejabat dan pelajar pada setiap hari Jumat. Dan pada forum itu pun, Kiai Abdul Manan selaku perwakilan PBNU menyematkan kain sarung berwarna hijau di leher Bupati Purwakarta itu sebagai simbol untuk senantiasa menjaga nilai-nilai ke-NU-an di Jawa Barat. []

 

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *