Satu Islam Untuk Semua

Friday, 27 May 2016

BUKU – ISIS dan Sejawatnya, Aktivis Khilafah yang Lupa Sejarah


312410_620

IslamIndonesia.id – ISIS dan Sejawatnya, Aktivis Khilafah yang Lupa Sejarah

 

Lewat bukunya, “ISIS; Kebiadaban Konspirasi Global”,  Reno Muhammad mengupas sejarah munculnya gerakan yang mengatasnamakan Islam yang mengobrak-abrik persatuan umat Islam itu. Dengan pembahasan yang luas, pembaca diajak melihat peta bagaimana Islam sedang ditunggangi oleh kelompok militan yang mengusung label khilafah ini.

ISIS, menurut Reno–laiknya gerakan ekstremis yang menunggangi nama Islam lainnya–ialah skenario permainan kepentingan politik global yang khawatir dengan terwujudnya persatuan umat Islam. Semua itu tak lepas dari misi untuk mencaplok sumber-sumber energi dan kekayaan alam yang dianugerahkan Allah Swt pada negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, dengan memanfaatkan jurus propaganda yang menjungkir-balikkan makna Islam.

Buku yang diterbitkan Noura Books  ini memulai dengan gambaran Musim Semi Arab yang meruntuhkan rezim ototiter seperti di Tunisia, Mesir, dan Libya. Selanjutnya, Reno mengurai kelahiran ISIS yang tak bisa dipisahkan dari tindak-tanduk kelompok militan Al-Qaeda. Dari sini kemudian, dijelaskan soal jejaring teroris di Indonesia melalui jaringan Al-Qaeda Indonesia yang telah membentuk sel ‘jihad’ dari Aceh hingga Poso.

“Buku ini ‘wajib baca’ demi memahami sisik melik ISIS yang pengaruhnya hingga ke masyarakat kita,”  kata Ketua PBNU, K. H. Said Aqil Siradj menaggapi hadirnya buku setebal 248 halaman ini.

Sejumlah kelompok turunan Negara Islam Indonesia (NII), termasuk ormas-ormas yang mengusung Khilafah Islam, disebutkan dalam buku ini. Sebagian besar anggotanya bahkan berpartisipasi langsung dalam politik praktis di tanah air dengan partai yang juga dinilai mendambakan khilafah.

Gagasan partai ini, – meskipun sebagian kadernya tidak mengakui secara tegas, – menurut Reno, sama dengan yang diusung oleh ISIS di Suriah. Hanya saja, beda pola kerja dan metodologi penyebaran isu.

“Ada yang gemar mengkafirkan, ada juga yang senang betul menyesatkan. Sindrom utama yang mereka anut adalah doktrin ultra-Wahabi,” katanya

Setidaknya ada dua titik lemah dari argumentasi aktivis khilfah yang selama ini mungkin tak mereka sadari – atau memang sama sekali tidak terpikiran. Pertama, jika yang dimaksud khilafah Islam, Muhammad Saw tak pernah sekalipun berujar bahwa ia adalah khalifah (dalam terminologi sistem pemerintahan modern).

“Muhammad Saw menggerakkan umatnya berdasar wahyu dan institusi yang langsung diturunkan oleh Allah.”

Kedua, Muhammad Saw tak pernah mengatakan bahwa ajaran yang dibawahnya dari langit ini adalah sistem pemerintahan untuk membangun sebuah negara kesatuan sedunia – atau apapun nama – melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Pada tulisan bagian ‘Para martir yang lupa sejarah’, Reno merasa heran mengapa aktivis khilafah ini alpa dari sejarah Islam yang mestinya mereka gali sedalam mungkin.

Secara garis besar, buku ini juga menggarisbawahi munculnya gerakan semacam ISIS dan sejawatnya itu bukanlah alasan bagi non-Muslim untuk takut kepada Islam. Perilaku mereka sama sekali tak beresonansi dengan napas Islam. Sebab, Islam ialah rahmat bagi semesta alam, bukan suatu paham yang harus ditegakkan dengan lumuran darah dan rasa takut tak berkesudahan.

Akhirnya buku ini ditutup dengan rujukan nash (ayat dan hadist), pendapat tokoh dan ulama Salaf dunia tentang ultra-Khawarij modern dan tawaran dari penulis buku mengenai proyek lanjutan yang bisa dikerjakan bersama demi kemaslahatan umat Islam dan perdamaian manusia sedunia.

ISIS

“(Buku ini) memberikan wawasan yang luas dan lengkap tentang ISIS, dan sekaligus enak dibaca,” kata Trias Kuncahyono, penulis buku ‘JERUSALEM, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir.’ []

 

YS/ Islamindonesia. Foto: Tempo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *