Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 02 March 2017

BNPT: 500 Lebih Eks Napi Teroris Telah Keluar Penjara, Hanya 184 Terdeteksi


bnpt-_120910175835-271

islamindonesia.id – BNPT: 500 Lebih Eks Napi Teroris Telah Keluar Penjara, Hanya 184 Terdeteksi

 

Penangkapan bukanlah solusi bagi penanggulangan radikalisme menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian.  Di sisi lain, Tito justru optimis jika kelompok Islam moderat senantiasa berupaya melakukan counter-ideology.

Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir menambahkan bahwa upaya deradikalisasi perlu waktu dan tidak mudah seperti membalik telapak tangan. Karena mengubah ideologi yang sudah tertanam di dalam diri seseorang memang membutuhkan waktu.

Sejauh ini, BNPT mencatat saat ini ada 250 napi terorisme yang tersebar di 77 lapas dan 1 rutan. Saat di dalam lapas, tidak semua bisa diajak mengikuti kegiatan bahkan banyak yang bersikap keras. Apalagi jika sudah keluar tentu akan lebih sulit lagi.

Hampir 600 orang mantan napi teroris yang sudah keluar dari penjara. Namun yang diketahui keberadaannya baru 184 orang. Sehingga ada 416 orang mantan napi teroris belum ditemukan keberadaannya.

“Mantan pelaku teroris yang di luar atau di masyarakat hampir 600 orang. Yang kita temukan baru 184 orang yang tersebar di 17 provinsi, tahun ini kita cari lagi dimana mereka. Tidak semua dari mereka yang sudah keluar itu kehidupan ekonominya baik,” kata Abdul Rahman Kadir pada ‘Sarasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme Dan ISIS di Kalangan Penggiat Dunia Maya,’ di  Yogyakarta, seperti dilansir detik.com (2/3).

Selain kondisi ekonomi yang tidak lebih baik, banyak mantan pelaku terorisme yang belum bisa diterima oleh masyarakat. BNPT berupaya membekali untuk bisa mencari mata pencaharian dan agar mereka bisa diterima di masyarakat.

Secara terpisah, Tito menjelaskan, peran para ahli agama sangat diperlukan untuk membantu pemerintah memberantas terorisme. Pasalnya, penyebaran paham radilkal kerap dilakukan oleh kelompok teroris melalui narasi ideologi dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang multitafsir.

Dia mencontohkan konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama merupakan salah satu contoh ideologi tandingan. Jika dilakukan secara intensif, kata Tito, maka konsep Islam Nusantara mencegah upaya radikalisasi kelompok teroris.

“Bisa juga dengan penyebaran ideologi tandingan contoh Islam Nusantara. Ini yang harus intens karena Islam Nusantara itu kan moderat dan berlandaskan kearifan lokal,” katanya.

 

 

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *