Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 09 October 2016

Bershalawat Dilarang Wahabi, Katib Syuriyah PBNU: Shalawat itu Jatidiri Kami


katib-syuriyah-pbnu-shalawat-itu-jatidiri-kami

IslamIndonesia.idBershalawat Dilarang Wahabi, Katib Syuriyah PBNU: Shalawat itu Jatidiri Kami

 

Menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016, PBNU akan menggelar pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah di 10 ribu titik di seluruh Tanah Air. Kegiatan tersebut rencananya akan digelar serentak dari Aceh sampai Papua pada 21 Oktober malam.

Katib Syuriyah PBNU KH Abdul Ghafur Maimoen mengatakan, semangat warga NU untuk menyukseskan pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini, adalah momentum untuk menampilkan jatidiri.

“Orang nahdliyin itu jatidirinya cinta shalawat, cinta terhadap Nabinya,” katanya di gedung PBNU, Selasa (20/9/2016) lalu.

Berbeda dengan kalangan Wahabi yang anti-shalawat dan anti-Maulid Nabi, warga nahdliyin menurutnya, semakin sadar bahwa ketika di seberang sana ada sekelompok orang yang tidak suka pada shalawat, justru membuat orang NU tergerak untuk menegaskan jatidirinya.

Apalagi jika kita tahu, sebagaimana kata Nabi Muhammad, “Orang tidak (disebut) beriman, kecuali saya (Nabi Muhammad) lebih dia cintai daripada dirinya sendiri.”

“Jarak kita ini kan dari Nabi Muhammad sudah sangat jauh sekali. Perjalanan waktu sudah 1400-an tahun lebih. Untuk menghadirkan Nabi itulah perlu ‘dipanggil’ dengan shalawat,” ujar putra kiai sepuh NU, KH Maimoen Zubair ini.

[Baca – Habib Lutfi: “Jika Nabi Manusia Biasa, Lalu Kita Ini Apa?”]

Selain itu, di NU ada tradisi lain, yaitu haul. Yaitu acara yang diselenggarakan agar jasa-jasa dan kebaikan orang yang dihauli diingat kembali setidaknya setahun sekali.

“Sama dengan upacara peringatan kemerdekaan, orang diingatkan tentang kebangsaan dan nasionalisme. Maklum, orang kan mudah lupa,” tambahnya.

Terkait gerakan anti-shalawat yang gencar dilakukan kalangan Wahabi Takfiri, Kiai yang biasa disapa Gus Ghafur itu mengisahkan pengalaman pribadinya tentang bershalawat.

Ketika itu dirinya diundang dalam sebuah pengajian di suatu daerah di Jawa Tengah. Ketika hadirin sedang asyiknya bershalawat, muncul orang yang menyebarkan selebaran yang isinya melarang shalawat.

“Orang seperti itu (Wahabi Takfiri penyebar larangan bershalawat) punya mental seperti apa? Dia mau berbuat baik atau apa? Dia ingin umat Islam saling bertengkar atau apa?” sesalnya sembari menegaskan bahwa sekelompok orang semacam itu, tidak bisa hidup dengan komunitas lain. Mereka hanya ingin membangun negara yang akidahnya sama seperti mereka.

“Nah, itu betapa bahayanya. Orang yang keras seperti ini bukan membangun negara, tapi bagaimana agar orang seide dengan dia. Kalau seide dengan dia, baru akan membangun negara. Padahal mustahil semua orang seide dengannya,” terang Gus Ghafur.

Menurutnya, kalau tidak setuju, sebaiknya disampaikan dengan cara-cara yang santun. Bukan dengan cara menyalahkan, melarang-larang apalagi sampai menyesatkan pihak lain.[]

 

[Baca – Gus Mus: Waspadai ‘Orang Pintar Baru’]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *