Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 04 January 2018

Bersama Buya Syafii dan Alisa Wahid, Paguyuban Tionghoa Rilis Program Kebangsaan


Buya Indonesia Belum Menjadi, Pancasila Masih di Atas Awan

Islamindonesia.id – Bersama Buya Syafii dan Alisa Wahid, Paguyuban Tionghoa Rilis Program Kebangsaan

 

Bersama dua tokoh Indonesia, Buya Syafii Maarif dan Alissa Wahid, Perkumpulan Indonesia Tionghoa (INTI) meluncurkan program untuk mengatasi ketimpangan sosial. DI Yogyakarta menjadi tempat deklarasi enam program prioritas kebangsaan.

Usai pertemuan selama dua jam di Sleman, Ketua INTI Teddy Sugianto menyatakan kerjasama ini didasarkan kesamaan pandangan bahwa bangsa Indonesia mengalami ketimpangan sosial dan ekonomi.

“Saat ini polarisasi masyarakat semakin meningkat karena dipicu sentimen keagamaan usai pilkada DKI Jakarta. Kami melihat saat ini gerakan oleh negara tidak bisa maksimal, sehingga dibutuhkan peran masyarakat yang mampu melahirkan gerakan dari bawah,” kata Teddy, Rabu (3/1).

Teddy, yang baru terpilih sebagai ketua INTI periode 2017-2022, menjelaskan program ini secara umum bergerak di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Enam program yang dideklarasikan tersebut, pertama, program pelatihan wirausaha di kalangan santri dan masyarakat pedesaan oleh para pengusaha INTI.

“Pelatihan yang diberikan tidak hanya berupa modul-modul saja, namun juga pendampingan sampai usaha tersebut berjalan. Akses pasar untuk produk yang dihasilkan menjadi program kedua,” lanjut Teddy.

Ketiga, program pertukaran duta bangsa ke negara-negara lain, terutama China, yang kini menguasai ekonomi global. Program ke empat, pelatihan bahasa Mandarin hingga pengiriman pelajar ke China.

Dengan kemampuan bahasa Mandarin, warga Indonesia memiliki tenaga andal untuk menyambut pasar bebas. Ke lima, program pelatihan kepemimpinan  pemuda dengan memberikan berbagai beasiswa.

“Terakhir adalah program pengentasan kemiskinan dengan target mengurangi jumlah desa tertinggal hingga 10 persen. Pelatihan manajemen keuangan adalah prioritas yang kami berikan,” lanjut Teddy.

Adapun ulama Muhammadiyah Buya Syafii Maarif menilai program yang diinisiasi oleh INTI ini merupakan gerakan membangun jembatan kebangsaan di tengah masyarakat yang saat ini terpecah belah karena politik.

“Saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah pembumian sila kelima Pancasila yang selama 72 tahun kemerdekaan tidak terpenuhi. Gerakan ini sesuai dengan semangat pemerintah yang ingin memeratakan pembangunan untuk keadilan sosial,” katanya.

Buya berharap, ketika Presiden Jokowi terpilih untuk kedua kalinya, desa tertinggal yang saat ini ada 36 persen dari 75.000 desa berkurang hingga tinggal 10 persen.

Adapun Alissa Wahid, putri Presiden RI keempat Abdurahman Wahid, melihat upaya INTI demi mengurangi kesenjangan dan kemiskinan di masyarakat.

“Negara yang maju dalam perekonomian adalah negara yang mampu mengatasi kesenjangan ekonomi dan ketimpangan sosial masyarakatnya. Bukan karena tingginya pendapatan per kapita,” katanya.

Menurut Alissa, ketimpangan ekonomi dan sosial Indonesia menduduki peringkat terburuk ketiga di dunia setelah Rusia dan Thailand.

 

YS/islamIndonesia/ Sumber: Gatra.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *