Satu Islam Untuk Semua

Monday, 06 March 2017

Belajar Kaya Batin kepada Mbah Sadiyo yang Miskin


Belajar Kaya Batin kepada Mbah Sadiyo yang Miskin

islamindonesia.id – Belajar Kaya Batin kepada Mbah Sadiyo yang Miskin

 

Dalam beberapa hari terakhir, nama Mbah sadiyo mendadak terkenal. Pasalnya, pria pemulung barang rongsokan yang penghasilannya tak seberapa dan hidupnya pas-pasan ini rela menyisihkan sebagian uangnya untuk dibelikan semen dan menambal sendiri jalanan aspal berlubang yang kerap dilewatinya. Tujuannya, ikut menjaga keselamatan ratusan bahkan ribuan pengendara yang juga melewati jalan itu agar mereka terhindar dari kecelakaan.

“Saya ini memang miskin. Tapi batin saya tidak miskin,” kata Mbah Sadiyo suatu ketika. “Secara lahiriah saya memang miskin. Miskin harta, tapi tidak miskin hati,” tambahnya.

Di bawah terik sinar matahari, tampak Mbah Sadiyo sedang menurunkan dua karung semen dari becaknya, di jalan Desa Gondang-Tunjungan, Sragen Jawa Tengah. Tanpa peduli sekitar, dia pun mulai melakoni “pekerjaan” rutin yang telah dijalaninya bertahun-tahun tanpa berharap imbalan dari pihak manapun itu.

Kepada Mbah Sadiyo, kita layak belajar soal keikhlasan tanpa pamrih, dan betapa miskin harta tak seharusnya membuat siapapun miskin hati dan miskin kepedulian kepada kepentingan sesama.

Tapi, ternyata kekaguman itu tak harus hanya berhenti sampai disini. Karena selain menyisihkan penghasilan untuk menambal jalan berlubang, pria bernama lengkap Sadiyo Cipto Wiyono (65) itu pun ternyata harus menghidupi cucunya yang sudah yatim-piatu.

Wibowo Rafi Pandu Jaladara nama cucu Mbah Sadiyo. Ia merupakan anak dari putri ketiga Sadiyo, Fitri. Fitri dan suaminya telah meninggal dunia karena sakit. Sebelum meninggal, Fitri menderita penyakit radang lambung.

“Anak saya empat. Yang nomor tiga sudah meninggal. Sekarang anaknya tinggal sama saya. Dia sudah kelas 6 SD,” kata Mbah Sadiyo di sela-sela kegiatannya menambal jalan berlubang di Desa Gondang-Tunjungan, Kamis (2/3/2017) lalu.

Mbah Sadiyo tinggal bersama istrinya, Tumirah, di Dukuh Grasak RT 42 RW 11 Desa/Kecamatan Gondang, Sragen. Sedangkan tiga anaknya bekerja di Bekasi. Kata Mbah Sadiyo, meski jumlahnya tak banyak, anak-anaknya selalu mengirimkan uang untuknya setiap bulan. “Sedikit-sedikit ya tidak masalah. Saya syukuri,” ujarnya.

Sehari-hari, dengan becaknya, Mbah Sadiyo berkeliling untuk mengumpulkan rongsokan. Ia mengaku mendapatkan Rp 100 ribu, kadang Rp 150 ribu dalam seminggu.

Begitulah selama lima tahun terakhir, Mbah Sadiyo menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli semen. Soal pasir, kakek 7 cucu itu meminta kepada warga yang sedang membangun atau merenovasi rumah. Kadang diberi, kadang tidak. Meski demikian, akktivitas sosialnya itu tetap berjalan.

Atas aksinya, Mbah sadiyo pernah diminta menghadap Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

“Mbah Sadiyo sempat ketakutan dan berkata kepada saya, ‘Bu Bupati, maaf, saya menambal jalan bukan bermaksud menggurui pemerintah’,” ungkap Bupati Yuni.

Betapa pria ini juga telah mengajari kita semua soal kerendahan hati dan tak berharap balas budi.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *