Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 23 May 2017

Bedah Buku Haidar Bagir Disoal, UIN Lampung: Kegiatan Akademis Kok Diboikot, Kan Lucu


Bedah Buku Haidar Bagir Disoal, UIN Lampung Kegiatan Akademis Kok Diboikot, Kan Lucu

islamindonesia.id – Bedah Buku Haidar Bagir Disoal, UIN Lampung: Kegiatan Akademis Kok Diboikot, Kan Lucu

 

Seperti beberapa Universitas Islam Negeri yang lain telah lebih dulu menggelar acara bedah buku Islam Tuhan Islam Manusia karya Haidar Bagir, kali ini Senin (22/5/2017), giliran Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung juga menggelar bedah buku tersebut di Gedung Serba Guna Fakultas Syariah dan Hukum. Pihak kampus sengaja tidak mengubah jadwal meski sebelumnya sempat mendapat penolakan dari beberapa kelompok yang hendak memboikot acara tersebut.

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung, Alamsyah mengakui penolak-penolakan yang terjadi seiring akan terselenggaranya acara bedah buku Haidar Bagir berjudul ‘Islam Tuhan Islam Manusia’ terbitan Mizan tersebut memang ada, namun tidak banyak.

“Yang menolak itu adalah kelompok-kelompok atau aliran-aliran dalam tanda kutip garis keras, yang memang tidak bisa melihat perbedaan-perbadaan dan ingin menyeragamkan Agama Islam menjadi satu warna,” ujar Alamsyah saat ditemui di kantor Fakultas Syariah dan Hukum, Selasa (9/5/2017) lalu.

Alamsyah yang juga akan menjadi moderator atau pemandu acara tersebut menambahkan, mahasiswa-mahasiswa yang cerdas bisa menghargai perbedaan, lebih sering mengundang tokoh-tokoh nasional, dan para penulis yang memang sopan dan santun dalam karya-karyanya. “Inilah orang-orang yang suka merajut tali kebersamaan. Penolakan-penolakan itu ada tapi tidak banyak, namun suaranya besar,” ungkapnya.

Menurut dia, buku itu telah didiskusikan di banyak kampus di antaranya UIN Jogjakarta, UIN Semarang, UIN Makasar, dan masih banyak lagi kampus lainnya. “Inikan kampus, tempat akademik yang semua orang berhak berpendapat, berekspresi dan hak untuk berbeda,” kata dia.

Ia menguraikan, bila dunia kampus tidak diperbolehkan ada perbedaan dan keberagaman, maka akan mati ilmu pengetahuan dan tidak akan berkembang. “Kalau untuk penyelenggaraan, Mizan. Memang menyebar informasi kalau-kalau ada kampus yang ingin bekerja sama dalam pendiskusian dan penulisan buku, namun tidak menyebutkan kampus-kampusnya. Nah, dari itu saya menangkap mengapa tidak kampus ini bekerja sama dalam hal keilmuan,” jelas Alamsyah.

Mengenai adanya tudingan bahwa Haidar Bagir merupakan penganut aliran Syi’ah? Alamsyah mengaku tidak tahu apakah benar atau tidak. “Saya tidak tahu ya. Seandainya pun Haidar Bagir itu Syi’ah, ia adalah Syi’ah yang sangat moderat dan toleran. Di buku-bukunya tidak ada kata-kata yang tidak sopan dan memvonis kelompok yang lain kafir, justru malah mempersatukan,” tuturnya.

Bila seandainyapun Haidar Bagir menyebarkan Syi’ah, seperti yang sering ditudingkan selama ini. “Wah ini konyol, karena di Indonesia masyarakat muslimnya adalah muslim yang moderat,” terang dia.

Alamsyah berpendapat, sebenarnya permasalahan yang timbul itu terkait politis, namun dibuat seolah-olah menjadi pemasalahan agama. “Saya melihat ini adalah permasalahan politis, kalau melihat Haidar Bagir yang dianggap Syi’ah atau musuh, kemudian ada kelompok garis keras Islam Indonesia. Ini dibuat seolah-olah perang-perangan, sebenarnya ada politik di balik itu,” tutupnya.

Anggapan sejumlah pihak mengenai Syi’ah dan Haidar Bagir, dinilai Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Intan Lampung Afif Anshori merupakan sesuatu yang berbahaya dan berlebihan. “Saya ini kapasitasnya sebagai akademisi ya, kalau memandang Haidar Bagir itu sebagai Syi’ah yang berbahaya itu adalah hal yang berlebihan,” kata Afif yang juga akan menjadi salah satu pembicara dalam acara bedah buku tersebut.

Menurut dia, sebetulnya Syi’ah di Indonesia sudah ada sejak lama dan budaya Syi’ah telah ada di masyarakat. Ia pun mencontohkan seperti ajaran tasawuf yang berkembang di Indonesia. “Itu yang membawa adalah tokoh-tokoh Syi’ah, jadi jangan kaget. Kemudian tradisi Tabot yang ada di Bengkulu dan Ulakan di Paryaman, itu juga adalah tradisi-tradisi Syi’ah. Persoalannya kenapa Syi’ah ditakuti, karena hanya satu aliran Syi’ah saja yang menyelewenang, seluruh Syi’ah menjadi tergeneralisir,” ungkapnya.

Afif menambahkan, Haidar Bagir adalah seorang akademisi murni yang memang banyak melakukan kajian-kajian tasawuf. “Orang Syi’ah itu dalam kajian filsafat dan tasawufnya tinggi, makanya bagi kalangan Nahdatul Ulama (NU), Syi’ah itu bukan masalah. Syi’ah di Indonesia berbeda dengan Syi’ah yang ada di Iraq, yang membenturkan antara Sunni dan Syi’ah. Yang mengatakan orang Syi’ah itu sesat, apakah memang akidah yang dijalankan olehnya sudah benar, makanya besok buku yang kita kaji itu berjudul ‘Islam Tuhan Islam Manusia’,” jelasnya.

Apa yang dimaksud dengan Islam Tuhan, kata dia, yakni Islam yang secara teologis. Islam dalam kacamata Tuhan, bahwa sejak Nabi Adam sampai Muhammad adalah Islam. Kemudian setelah Nabi Muhammad wafat, mulai ada perpecahan-perpecahan dan aliran-aliran di dalam Islam, inilah yang dinamakan dengan Islam Manusia, Islam yang dilihat dari kacamata manusia, dilihat dari perspektif sosiologis.

“Dari sinilah muncul klaim bahwa Islam saya yang paling benar, hal ini yang tidak boleh, yang kita cari di sini adalah Islam menurut mau Tuhan. Kok lucu, ini adalah kegiatan akademis, tidak dibenarkan kalau ada boikot, kecuali ada gerakan yang bertolak belakang dengan mainstream, silahkan dilawan juga dengan gerakan,” tegas Afif.

Menyikapi polemik tentang acara bedah buku ‘Islam Tuhan Islam Manusia’ ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung Khairuddin Tahmid mengatakan, acara tersebut merupakan kegiatan akdemis, jadi sah ketika dilaksanakan di dalam kampus.

“Kalau memang tidak sepakat, ya hadir dalam acara bedah bukunya. Silahkan berargumentasi secara intelektual,” singkatnya saat ditemui di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung, kemarin.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *