Satu Islam Untuk Semua

Monday, 01 July 2013

Balada Bocah Pengungsi


Kekerasan atas nama agama menyebabkan para bocah ini sementara harus terputus dengan masa depan mereka.

Kelompok awan putih menggelayuti kawasan rusun (rumah susun) Puspo Argo di Sidoarjo. Di sela-sela gerombolan kapas raksasa itu, matahari mencorong garang. Cahayanya yang panas menebar seantero kota yang gersang dan miskin pepohonan tersebut. Di sudut salah satu rusun, Ali Akbar (2) tengah asyik dengan mainannya: sebuah replika pesawat tempur yang terbuat dari plastik berwarna hijau tua. Sesekali suara desis keluar dari mulutnya yang mungil: meniru deru pesawat yang tengah tinggal landas.

Mungkin merasa jenuh, beberapa menit kemudian Ali mendekati Musa Alkadim, seorang remaja tanggung yang tengah menulis angka-angka perkalian di selembar catatan kecil. Sambil menggelayut manja, mulutnya berusaha menyebut angka-angka yang dilihatnya. “Dubelas, sapolo…”katanya dalam nada cepat.

“Banni sapolo, tapeh dupolo (Bukan sepuluh, tapi duapuluh)…”ujar lelaki kelahiran Sampang 14 tahun lalu itu sambil tersenyum. Dielusnya kepala sang bocah dengan rasa sayang.

Guna membunuh waktu, tak ada yang bisa dilakukan oleh para bocah pengungsi itu selain mengerjakan apa yang mereka bisa. Misalnya supaya terus mengingat pelajaran yang pernah ditimbanya di SD Karang Gayam, Sampang yang terpaksa ditinggalkannya, Musa setiap hari harus membaca dan berlatih sendirian.           ” Kalau tidak mengerti, tanya kepada orang yang lebih besar,”ujar remaja yang menyukai pelajaran matematika ini.

Nasib yang sama juga harus dialami oleh Ayu Timah (13). Gadis kecil ini terpaksa harus  melupakan untuk sementara cita-citanya menjadi polwan (polisi wanita). Itu terjadi selain sekolahnya terputus hanya sampai kelas lima (terpaksa harus ditinggal mengungsi), ia pun tidak mengerti apakah ia akan bisa melanjutkan pendidikannya atau tidak di tempat pengungsian. “Saya sedih, tapi tidak tahu harus bagaimana? Ya sekarang ikut kemana saja orangtua saya pergi,”ujarnya.

Bagaimana tidak merasa sedih, Ayu mengingat kehidupannya di Dusun Nangkernang merupakan masa-masa yang paling indah dalam hidupnya. Seraya matanya menerawang, ia berkisah tentang ritme hidupnya di kampung halaman. “Jam segini saya baru pulang sekolah, sesudah shalat ashar saya pergi mengaji dan pulangnya sebelum maghrib sudah disediakan makanan dan minuman oleh ibu saya,”kenangnya.

Kepada saya, Ayu juga menyebut satu persatu nama beberapa kawan dekat serta ibu guru favoritnya di SD Karang Gayam. Katanya, kendati mereka berasal dari keluarga Sunni dan tahu Ayu beserta keluarganya menganut mazhab Syiah, namun perkawanan di antara mereka tetap berjalan akrab.” Saya sering main ke rumah mereka begitu juga mereka sering main ke rumah saya,”ujarnya dalam nada polos.

Ketidakmengertian juga menjadi milik Mohammad Sofi (13). Jejaka hijau ini tak habis pikir, kenapa ada sekelompok manusia yang tega menginginkan mereka jadi pengungsi. Padahal menjadi pengungsi, tak terbersit pun sebelumnya dalam kepala Mohammad. “Saya tidak tahu kenapa diusir dari kampung, katanya kami kafir…”katanya dalam nada lirih.

Yang jelas, kata Mohammad, di GOR. Sampang saja ia merasa tak betah tinggal, terlebih di Sidoarjo. Selain lingkungannya yang sangat asing, ia merasa di penampungan barunya ini tak bisa berbuat apa-apa. “Kalau begini, saya jadi ingin pulang kembali ke Sampang. Ada ladang dan sapi yang selalu membuat saya senang dan bekerja membantu orangtua,”ujarnya seraya mempermainkan bagian ujung sarung merah yang dikenakannya siang itu.

Berposisi sebagai pengungsi memang menjadi pengalaman yang berat bagi 61 bocah pengungsi Syiah di Puspo Argo. Menurut Abdul Jalil (35), tak jarang anak-anak kecil itu menangis dan minta pulang. Tak ada yang bisa disampaikan oleh para orangtua kepada mereka selain menyatakan bahwa pengungsian ini hanya bersifat sementara. “Padahal kalau pemerintah memutuskan kami supaya di sini selamanya, apa bisa kami?”ujar pengungsi yang salah satu keluargannya tewas dalam insiden Agustus tahun lalu tersebut.

Kelompok awan putih sudah terusir dari kawasan rusun  Puspo Argo. Gerombolan kapas raksasa telah enyah, diigantikan lembayung senja yang memayungi horizon terjauh dari kota Sidoarjo. Di sudut salah satu rusun bagian paling atas, Yasir (9) tengah asyik memperhatikan sebuah sedan polisi yang nampak seperti kotak korek api berwarna putih merah bila dilihat dari ketinggian. Ia lantas menengadah ke wajah ibunya yang tengah berdiri di sisinya, lantas bertanya: “Ma’ bilah seplemannah? (Bu, kapan kita pulang?)”. Ditanya demikian, dengan rasa sayang dipegangnya kepala sang bocah. “Daggi’, pasteh settong baktoh engko ba’nah kabbi bakal mole (Nanti, suatu hari pasti kita pulang…”jawabnya. Ya, tapi entah kapan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *