Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 April 2017

Awal Puasa Ramadan NU dan Muhammadiyah Diprediksi Sama


awal puasa

Islamindonesia.id – Awal Puasa Ramadan NU dan Muhammadiyah Diprediksi Sama

 

Awal bulan Ramadhan 1438 H diprediksi tidak mengalami perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kemungkinan ini, menurut Tim Rukyatul Hilal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, berdasarkan posisi hilal pada 29 Sya’ban, saat itu hilal berada di titik lebih dari tiga derajat.

“Jika hilal di atas 3 derajat, artinya hampir pasti hilal bisa dilihat. Dengan demikian, Insha Allah awal puasa jatuh pada 29 Sya’ban,” kata Ketua Tim, Sholeh Hayat, di Surabaya, seperti dilansir metrotvnews. com, 25/4.

Untuk memastikan hilal, PWNU menggelar rukyatul hilal pada 29 Sya’ban atau Jumat, 25 Mei 2017. Rukyatul hilal digelar di 11 titik yang tersebar di beberapa wilayah di Jatim.
Jika hilal bisa dilihat pada 26 Mei, kata Sholeh, artinya keesokkan harinya yaitu Sabtu, 27 Mei 2017, sudah masuk Ramadan.

“Jika hal tersebut terjadi, kemungkinan antara NU dan Muhammadiyah akan sama memulai puasanya,” jelasnya.

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih telah menetapkan 1 Ramadan 1438 Hijriyah jatuh pada Sabtu, 27 Mei 2017 Masehi. Hal itu, berdasarkan perhitungan jelang Ramadan 1438 Hijriyah terjadi pada Jumat Legi 26 Mei 2017 terjadi pada pukul 02.46 WIB.

“Tinggi bulan pada saat matahari terbenam untuk Kota Yogyakarta,  +08 derajat 22’ 59” yang berarti hilal sudah terwujud. Di seluruh Indonesia, saat matahari terbenam, posisi bulan sudah berada di atas ufuk,” kata Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H Syamsul Anwar seperti dilansir viva.co.id, 14/3.

Sementara penetapan awal Idul Fitri 1 Syawal 1438 H akan jatuh pada 25 Juni 2017. Menurut Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, penetapan Idul Fitri itu berdasarkan wujudul hilal yang sudah berada di atas 4 derajat. Karena itu, dia berharap Lebaran tahun ini akan berbarengan dengan keputusan pemerintah.

“Kemungkinan akan sama dengan pemerintah. Karena kan posisi hilal saat itu berada di sekitar 7 derajat. Sudah tinggi. Nah pemerintah walaupun menggunakan rukyatul hilal biasanya di atas 4 derajat itu sudah masuk rukyat (terlihat), bahkan ada pendapat kalau 2 derajat, sudah rukyat,” katanya[]

 

 

YS/ Islam Indonesia. foto: liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *